0

TANRI'S DIARY

LAPORAN TUGAS AKHIR

------------ MENCARI -----------
“Kamu udah ambil pasien?”
“Kita mau di Puskesmas mana nih?
“Rame nggak ya?”
“Pasiennya rame, mahasiswanya juga rame, jangan di sana, ya!”
“Jadinya dimana nih?”
“Coba tanya anak-anak yang lain!”
“Yauda besok kita kesana dulu aja gimana?”
“Harus bawa surat nggak ya?”
“Oke, aku urus surat.”
“Puskesmasnya mau direnovasi. Belom bisa disana (Jakarta Utara).”
“Yaudah, Puskesmas PKK II aja, ya.”
“Besok ketemuan jam berapa nih?”
“Ke Kampus, Puskesmas, terus ke Sudin, ya?!”
“Jangan lupa bawa helm dua!”
Percakapan yang tak akan ada hentinya jika tak langsung bergerak. Sebelum mengambil keputusan, begitu banyak hal yang harus dipikirkan demi kebaikan kami berlima hingga tugas ini berakhir. Aku, Risa, Ka Nathan, Iyi dan Ivaa. Kami berusaha untuk selalu mengerjakan dan memiliki kemajuan yang sama hingga “misi” ini berhasil. Proses surat menyurat dan perizinan telah kami lakukan. Saatnya untuk mencari seseorang yang sangat istimewa. Aku dan kawan-kawan langsung menuju tempat kejadian perkara agar bisa menemukannya. Ini bukan seperti detektif yang ingin memecahkan teka-teki. Bukan seperti polisi yang ingin menemukan tersangka. Ataupun seseorang yang sedang mencari kekasih, dan hal lainnya seperti di film-film yang sering kita semua tonton.  Ini akan lebih meminta hati untuk berkata siapa yang terbaik, meminta otak untuk berpikir apakah ia sehat, meminta kepada Sang Maha Pencipta apakah ia yang sudah dituliskan-Nya untuk menjadi klien dalam laporan tugas akhir kami. Seluruh kertas berwarna biru muda berisikan data dasar, data subjektif, objektif, analisa dan penatalaksanaan telah kami pilah dengan sangat apik. Berbagai macam cara untuk berkomunikasi dan berjumpa dengan mereka telah dikerahkan. Kalimat seperti “Maaf mba, saya izin suami saya dulu”, “Maaf mba, saya nggak berencana lahiran di sana”, “Iya mba, saya kan kerja, jadi nggak bisa ke sana untuk periksa rutin dan belum tau juga mau lahiran dimana”, “Saya punya riwayat operasi, mba”, “Apakah saya bisa menelpon pihak sana dulu?”, “Kemarin juga tetangga saya ada yang didampingin sama seperti mba-mba”, “Ini anak ke-5 saya, mba”, “Saya diperkirakan nggak bisa lahir normal untuk anak kedua ini, mba”, tak dapat dihindari. Meski jalanan dari salah satu daerah Jakarta Timur ini sudah bosan melihat kami mengelilinginya. Sungguh jenuh, katanya. Berbeda jika salah satu dari kami mendapat jawaban seperti, “Oke mba, aku seneng banget malah ada yang nemenin, bisa nanya-nanya kapanpun dan nggak kebingungan, aku mau ko, mba”, Subhanallah … bagaikan hembusan angin lembut nun sejuk merasuk perlahan melewati celah sel dalam tubuh ini, mengeringkan butir-butir keringat yang kami pikir takkan hilang untuk selamanya, disertai dengan hembusan yang dapat pula menarik bibir ini untuk tersenyum merekah.

----------- KONSUL I -------------
Saatnya laporan kepada dosen pembimbing dengan hasil, Ka Nathan (Ny. L), Ivaa (Ny. R), Risa (Ny. K), Iyi (Ny. Y) dan aku (Ny. H) atau (Ny. S). Dosen pembimbing adalah salah seorang yang harus aku mintai restunya agar tugas ini berjalan dengan lancar, mudah dan berkah. Terpilihlah (Ny. H) sebagai seseorang yang harus aku dampingi dalam menjalankan “misi” ini. Bukan misi biasa, tapi misi yang luar biasa. Misi untuk bisa menjadi bidan yang menerapkan head, heart and hand, aamiin.
“Tan, lo itu ………#)*$K=?q^%@?-#*(#)*$K=?q^%@?-#*(!#)*$K=?q^%@?-#*(!!”
“Tan, kamu tau kan ini namanya tugas akhir?!!!!!”
“Tanri … aku udah pernah ketemu seseorang yang spesial seperti itu. Bener bener harus sabar banget, Taaaan!”
“Ya ampun, Langit …”
“Aku yakin kamu bisa ko, Tan!”
“Duh Langiit, Langit …”
“Au ah, Ngit!”
“Konsul ulang, Tan!”
Dukungan, masukan, tangisan, kasih sayang, cinta, kepedulian, kasihan, semuanya terpampang jelas dari wajah dan tatapan mata satu timku. Mereka bisa membaca isi hati dan otakku. Aku hanya bisa memohon doa dan restu dari teman-teman satu kelompok bimbingan.
“Bu, aku harus dampingin salah satu ibu hamil dengan tunarungu wicara, ini anak pertamanya bu, doain aku yaa.”
“Loh, itu bukannya …………?”
“Iya, Bu.”
“Ndo, ……#)*$K=?q^%@?-#*(#)*$K=?q^%@?-#*(!#)*$K=?q^%@?-#*(!!”
“Kalo ada apa-apa gimana?” Tambahnya
“Enggeh, doain ya, Bu.”
Doa, merupakan kunci ketika bingung sedang menyergapmu. Bertanya, adalah pelengkapnya. Sedangkan curhat, adalah bumbu dari setiap konsultasiku. Selain tanri’s diary, seperti biasa dan sudah sangat biasa, Heidy Puspa Alyssa (sahabatku) adalah tempat bumbu yang selalu ku isi dengan macam-macam bumbu. Terutama yang ini (nunjuk hati). Eaaa. Bercanda. Krik. Serius. Aku sangat yakin sejak dulu, kepiawaian Heidy menjadi pendengar itu karena faktor turunan dari mamanya, Bidan Isabella. MasyaAllah. Entah kenapa, walau aku dan Heidy suka bercerita dengan menggebu-gebu. Beliau bisa membasuhnya dengan kalimat lembut namun membangkitkan. Aku menceritakan mengenai keresahan dan ke-setengah optimis+pesimis-an ku kepadanya. Lalu beliau menjabarkan apa yang bisa ku lakukan agar topik ini lanjut hingga nanti sidang. Pada saat itu, ada Irli juga sebagai saksinya.
8 akhwat (sahabatku) sejak SMA juga tak akan ketinggalan tentang berita ini. Mahasiswi Pendidikan (Bella & Denis), DIII Kebidanan (Kiky), Design Produk (Arini), Biologi (Helen), Transportasi Darat (Yunita), Kedokteran Gigi (Nata), semuanya aku wawancarai secara mendalam. Banyak sekali masukan-masukan dari mereka. Haruskah kamu ke SLB, Tan?
Tetangga yang merupakan mba dan masku pun tak boleh terlewatkan dari wawancara ini. Mba Anis (Mahasiswi Pendidikan), Mas Dana, Ka Jo, Ka Nisa (Mahasiswi Kedokteran), Ayu (Mahasiswi dari Jogja) dan adik-adik kesayangan (Lia & Uzhi). Restu harus diluncurkan oleh mereka yang merupakan saudari plus sahabat dari orok ini.
Aku juga sempat diskusi dengan adik-adik kelasku, Iki dan Yopi, karena satu tempat dinas. Kini, mereka yang akan melalui masa itu. Terimakasih dan semangat adik.
Pencarian data dan informasi diluaskan hingga ke beberapa bidan yang tak jauh kediamannya dari rumahku. Aku harus mewawancarai minimal 10 bidan sebagai survey pendahuluan dalam laporan tugas akhir ini. Baik yang bekerja dalam sektor pemerintahan maupun sektor swasta. Banyak sekali amanah yang disampaikan oleh beliau-beliau. Banyak juga yang memberiku semangat. Alhamdulillah ada yang nyemangatin, hihihi.
Aku juga konsultasi dengan kakak-kakak bidan yang Allah pertemukan kami dalam satu grup WA. Beliau sangat antusias dan rela mengetikkan nasihat yang MasyaAllah ..

-------------- PDKT ------------
Ku kembangkan senyum dari biasanya. Hari yang paling membahagiakan adalah ketika akan melakukan PDKT dengan seseorang yang kita sayangi. Aku bahagia bisa bertemu dengan keluarga besar dari Ny. H. Aku bahagia bisa mengenal dan dikenal. Aku bahagia jika yang bertemu denganku tak kunjung bosan meski ku datangi tiap minggu untuk mengetahui bagaimana keadaan sang ibu dan janinnya. Hingga ia tumbuh besar, menapaki jalan yang telah ditulis Sang Maha Pencipta dan menggapai mimpi serta harapannya. PDKT? BERHASIL!
“TUNG” sebuah tanda bahwa chat baru masuk dalam whatsappku. Dari Ny. H ternyata.
“Tanri, kamu udah punya pacar belum? Mau nggak sama keponakan aku? Dia udah kerja juga kok.” Tanyanya.
“TUNG” tanda pesan kedua. Gambar dari Ny.H tambah.
“Ini fotonya.” Jelasnya.
“Belum, Bu. Doain yaa, hihihi” Jawabku.
“Kalo mau, nanti aku kenalin.”  Ujarnya.
PDKT? SANGAT BERHASIL!  Ny.H lengkap dengan keluarganya. Kalau ke rumah beliau, jujur aku tak selalu membawa buah tangan atau bawaan, tapi aku yang selalu dibekeli, MasyaAllah. Semoga berkah, ibu dan bapak, aamiin.
Selain melakukan pendekatan dengan masing-masing ibu hamil yang memang didampingi. Aku dan teman-teman satu kelompok bimbingan juga melakukan pendekatan dengan ibu hamil satu sama lain. Terutama saat kunjungan pertama kali dan beberapa kunjungan lanjutan. Terimakasih teman-teman karena telah berbagi waktu dan senyum kalian. Terimakasih Iyi sudah menerapkan kesabaranmu untuk PDKT-an juga dengan ibu hamilku.

------------- SIDANG/SEMINAR PROPOSAL -----------
“Jika nanti saya menjadi penguji kamu lagi saat sidang LTA, saya akan bertanya bagaimana cara kamu bisa membuat Ny.H mengerti dengan informed consent  yang kamu buat?!” Pertanyaan sekaligus pernyataan penguji kedua yang merupakan dosen pembimbing keduaku untuk tugas akhir ini.
“Baik, Bu.” Jawabku dengan senyum beribu tanya.
“Gimana? Ya Allah … aku harus bagaimana? Gimana, ya? Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok” 
Kursi panas yang menahan beban tubuh serta otakku berubah setelah penguji pertama yang merupakan dosen pembimbing pertama menyarankan hal ini ..
“Begini aja, Tan. Setelah seminar proposal ini, kamu konsultasi dengan beliau caranya bagaimana?!” Tantang dosen pertama.
“Ah, ibu bisa, aja. Nah, konsul ya, Tan?!” Balas dosen kedua tak ingin kalah.
Rasanya begitu hangat dan nyaman. Ya, benar. Banyaknya pertanyaan yang dilontarkan masih diselimuti dengan senyum dan tawa. Bahkan teman-teman satu kelompok bimbingan pun ikut mencairkan suasana ketika judul kasus ini membuat satu ruangan harus menghela napas. Terimakasih dosen pembimbingku.

------------- PKK III -------------
Kampusku menjadwalkan PKK III berlangsung tepat setelah sidang proposal LTA. PKK III kali ini akan menghabiskan waktu kami selaku mahasiswi DIII Kebidanan untuk dinas di RS, PKM dan BPM. Bagaimana dengan tugas akhir? Selama itu pula tugas akhir kami harus tetap berjalan. Giliranku, aku mendapat jadwal untuk dinas di Puskesmas terlebih dahulu. Alhamdulillah … Allah memberiku kemudahan dengan hal itu. Kenapa demikian? Karena taksiran persalinan ibu hamil yang sedang aku dampingi berada di bulan saat aku dinas di Puskesmas.
Minggu itu, tepat tanggal 13 Maret 2016, seperti biasa aku berangkat dinas ke PKC. M, alhamdulillah rute perjalanannya lancar, mulus dan sejuk sekali. Aku paling suka kalau harus dinas hari minggu. Kenapa? Karna perjalanannya ku anggap sedang jalan-jalan, tidak macet seperti hari biasa. Satu lagi, pelayanan hanya pada bersalin, nifas dan BBL (Bayi Baru Lahir), hehehe. Hari itu kupikir akan sepi juga di PKC. M, ternyata, banyak juga yang partus (bersalin/lahiran), tak apa, aku dan Risa akan ON. Ada dua bayi yang harus aku pantau, temanku yang lain akan memantau atau mengobservasi ibu nifas dan BBL yang lainnya. Tak kusangka, ibu nifas (Ny. M) yang sudah pulang kemarin harus kembali lagi karena bayinya demam. Aku dan Risa yang sebelumnya bertemu dan berfikir bahwa ibu tersebut sudah bahagia karena bisa pulang ke rumah, ikut merasakan kesedihan yang terpancar dari wajahnya. Ia begitu menyayangi bayinya, tetesan air mata tak bisa ia bendung ketika melihat sang bayi demam dan harus mendapat perawatan lebih. Sampai akhirnya bayi tersebut harus dibawa ke rumah sakit. Aku dan Risa hanya bisa berdoa agar dede lekas sembuh, aamiin. Sore pun tiba, ibu nifas beserta bayi yang harus kami pantau tinggal dua, bayi pertama hipertermia (suhunya rendah) dan bayi yang kedua takipnea (nafasnya cepat). Sambil melakukan observasi, aku dan kawan-kawan mengerjakan tugas kampus yang lainnya. Sang malam tak ingin kalah, kini ia hadir menemani aku dan kawan-kawan untuk berpartisipasi dengan bagian pendaftaran karena IGD sedang ramai-ramainya, bahkan sampai 200-an pasien. Subhanallah …
Senin, 14 Maret 2016, alarm berbunyi dan memintaku untuk sholat tahajjud, tapi aku kalah dengan godaan syetan. Shubuhpun berkumandang, ada pasien juga, kali ini bagian partner capcin (panggilan special untuk kawan baru dari akbid lain) yang akan menolong. Setelah itu aku baru bisa membuka hape dan memeriksa kalau ada satu panggilan masuk dan dua pesan singkat (sms). Dari siapakah itu? Astaghfirullah ... dari suaminya ibu hamil yang aku dampingiiiiiiiiiiin. Langsung bales sms, langsung telpon balik berulang kali. Aku berusaha untuk menghubungi kedua pasangan suami istri yang sedang menunggu kehadiran bayi pertamanya ini. Aku begitu bingung dan memikirkan banyak hal kenapa sms dan telponku belum juga direspon. Apa iya ibunya sudah lahiran di tempat lain karena terlalu panik? Atau sekarang sudah masa nifas dan lagi kumpul keluarga? Ya Allah … atau aku datengin aja ya ke rumahnya? Tapi lagi di rumah yang mana? Di Jatimekar atau Pinang Ranti? Bingung. Oke, aku tungguin aja di depan Puskesmas, tapi tak kunjung datang. Baiklah, aku ambil statusnya dulu, siap-siapin format bersalin dan yang lainnya. Sip, Tan! Tenang … berdoa!
"TOK TOK TOK". Suara ketukan pintu yang tak biasa terdengar dari ruang bersalin PKM. M. Dengan sigap, ku hampiri kedua pasangan suami istri yang tengah membawa tas besar dan jelas ku ketahui bahwa itu berisi perlengkapan persiapan persalinan. Ya Allah, muka bumilku sudah tak seperti biasanya. Masuk ke ruang bersalin dan dilakukan pemeriksaan. Tekanan darah beliau 180/120 mmHg. Mungkin karena lelah dan baru sampai juga. Tunggu 10-15 menit. Tensi lagi, 180/120 mmHg. Dilakukanlah pemeriksaan yang lain termasuk pembukaan jalan lahir. Sejauh ini, setiap proses komunikasi benar-benar dilakukan dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan ibu hamil yang ingin bersalin lainnya. Aku dan suaminya selalu menerjemahkan agar bahasa yang disampaikan bisa dimengerti baik oleh ibu hamilku ataupun dengan lawan bicaranya (baik bidan maupun dokter). Waktu terus bergulir. Selain ketuban yang sudah pecah. Tensi ibu hamilku juga tinggi bahkan dengan hasil protein urine yang +2. Seluruh pengkajian data subjektif dan objektif telah dilakukan. Diambil keputusanlah untuk melakukan rujukan ke rumah sakit terdekat, InsyaAllah ini yang terbaik, ucap hatiku. Dilakukan penanganan awal pada PEB dan KPD. Jujur, aku tak kuasa melihat ibu hamilku dan suaminya. Aku terbayang ketika kami melakukan latihan persalinan normal untuk rencana bersalin di Puskesmas dan semuanya sudah kami pelajari bersama-sama disetiap minggunya. BAKSOKU siap, aku ikut mendampingi ibu hamilku ke RSIA. R. Aku hanya bisa memberitahu ibu hamilku melalui elusan lembut pada perut dan kakinya untuk sabar dan InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja. Aku dan kakak-kakak bidan hanya bisa berdoa semoga semuanya lancar, aamiin. Saat di ambulance juga aku tak lupa untuk menyampaikan kepada dosen pembimbing pertamaku apa yang sedang terjadi. Beliau juga berdoa semoga ibumilku tidak di SC.
Sesampainya kami di RS, banyak sekali yang menyambut kakak bidanku, karena beliau pernah bekerja di RS tersebut. Saat di ruang penanganan awal, aku hanya bisa membantu ibu hamilku mengganti pakaian dan memberikannya dukungan emosional dengan tatapan mata, elusan dan beberapa kalimat penenang.  Aku juga tak diperbolehkan untuk menemaninya di ruangnya tersebut. Aku dan suami ibu hamilku akhirnya menunggu di luar ruangan. Kami menunggu berjam-jam sampai akhirnya tak lama kemudian ibu dari ibu hamilku (Emak) datang bersama dengan cucunya. Emak juga ikutan mules dan kurang enak badan. Aku dan Diah (cucu dari Emak) berinisiatif untuk membeli jamu untuk masuk angin dan minyak oles. Kami sudah kemana-mana namun hanya jamu yang bisa dibeli. Setelah memberikan jamu, aku meminta Diah untuk menemaniku sholat, “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”. Seselesainya sholat, aku kembali menemui Emak dan suaminya ibu hamilku. Ternyata, Emak dan Diah ingin pulang dan menunggu di rumah. Tak apa, Mak. Biar cepet sehat dan bisa gendong cucu yaa. Lagi lagi aku hanya bersama suami dari ibu hamilku. Kami sama-sama berdoa semoga ibu dapat bersalin normal walaupun harus di RS, aamiin. Di sela-sela waktu menunggu itu, aku dan suami ibu hamilku selalu melihat kakak kakak perawat atau bidan mendorong box bayi. Ketika melihat itu berulang kali karena banyaknya bayi yang ingin berjumpa dengan sang mama untuk menyusu, kami bahagiaaa sekali. Aku membayangkan ibu hamilku akan bertemu dengan anak pertamanya. Dan suaminya ibu hamilku membayangkan nanti anaknya juga akan seperti itu ketika sudah lahir. Disaat menunggu juga aku merasa mulas. Ibuuuu, mulasmu sudah kemana-mana termasuk ke aku. Hehehe. Lagi lagi disaat menunggu juga, aku bertemu dengan ibu nifas yang bayinya demam itu, masih inget nggak cerita yang di atas? Yang aku harus memantau bayi demam dan akhirnya dirujuk. Nah, hari itu aku bertemu dengan ibunya bayi itu, ia lebih segar dan terlihat lebih tegar. Dan tak disangka, suaminya juga ikut menemani. Alhamdulillah … aku ikut senang melihatnya. Mereka sekarang lebih klop. Aku seperti reunian dengan klien, hehehe. Walaupun Emak dan Diah sudah pulang, aku tak kesepian. Beberapa saat kemudian, "Panggilan kepada keluarga Ny. H?!",  aku dan suami ibu hamilku langsung nyamperin petugas dan mengikuti apa yang diperientahkan. Yang bisa masuk untuk mendengarkan penjelasan dokter hanya suami ibu hamilku. Ketika beliau keluar aku segera bertanya sambil melihat lembaran yang beliau pegang, “Catatan persiapan SC”, ternyata ibu hamilku harus di SC karena tensinya tinggi. Aku hanya bisa menarik nafas, menyebut nama Allah, dan menghembuskannya kembali. Suami ibu hamilku pun akhirnya pulang untuk mempersiapkan semuanya. Aku? aku sms dosen pembimbingku dan memberitahu keputusan yang telah dibuat oleh dokter. Lalu aku menyampaikan juga tentang kesedihanku kepada beliau. Karena suami ibu hamilku pulang, aku pun izin pulang kepada dosen pembimbing, beliau mengizinkan namun ketika masa nifas aku harus tetap memberikan asuhanku. Ku hubungi Risa untuk kembali ke RS menjemputku. Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB, sambil menunggu Risa, tak disangka lagi, aku bertemu dengan ibu hamil (Ny. L) yang didampingi oleh temanku, maksudnya pasien kompre temenku, beliau memang SC selektif di RS itu pada tanggal 12 kemarin. Sebut saja temanku itu, Ka Nathan (teman satu bimbingan). Subhanallaaah, aku seneng banget melihat beliau sudah bersama bayi dalam gendongannya, yang tadinya masih diperut sewaktu aku bertemu pertama kali untuk mencari rumahnya bersama Ka Nathan. Senaaaaang sekali. Beliau juga bertanya aku sedang apa dan sama siapa. Kujelaskan semuanya.
Beliau menjelaskan …..
"Kalau SC nya jam 15.00 kemungkinan keluar dari ruangan itu sekitar jam 22.00 mba, mba mending jengukin besok aja, soanya mba S (Ka Nathan) juga nggak boleh nemenin sama sekali waktu saya mau di SC dan lain lain". Dalam hatiku, iya Bu benar, temanku itu memang sediiiih sekali saat itu.
“Iya Bu, InsyaAllah besok aku dateng lagi ke sini. Ini lagi nunggu dijemput.”
"Sama pacarnya, mba?" kata sang ibu sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Ya Allah Bu, siapa? hehehe"
"Iya, soalnya aku liat kalo mba S udah punya pacar ya, bahkan pas itu difotonya ada anak kecilnya, kupikir itu anaknya."
"Ibuuu, iya doain aja dia emang sebentar lagi, hehehe"
"Yaudah, temennya nggak usah kesini, mba pulang naik mobil sama aku dan keluarga aja, ke Puskesmas kan? Nanti kan ngelewatin.”
"Iya nggak apa-apa bu, temenku udah dijalan kayanya, hehehe, makasih banyak ya, Bu". 
Alhamdulillaaah, percakapan yang luar biasa, bayi yang digendongnya pun begitu cantik, cantiiiiik sekali. Sebelum bertemu dengan Ny. L, aku juga sempat menjenguk bayi yang demam itu (bayi Ny. M), ia begitu lahap menyusu bersama ibunya. Sedih, senang, terharu, yang biasanya sudah pulang, bahagia, sehat, terus ketemu lagi pas kontrol. Tapi ini ketemu lagi di ruang perawatan khusus. Bayi Ny. M harus disinar :( suami Ny.M juga berkaca-kaca melihat bayi dan istrinya yang sedang berdua. Ku sempatkan juga melihat ruang perina, bayi mungil, cantik, lucu, manis, ganteng, semuanya tertidur dalam bed masing masing namun berjejeran, kulihat satu persatu, dalam doaku, sebentar lagi bayinya ibu hamilku juga akan tidur di ruangan ini, aamiin.
Masih menunggu Risa, akhirnya aku mendapat pertanyaan dan diminta tolong oleh pasutri yang bayinya sedang dirawat itu untuk menanyakan pada pihak Puskesmas apakah SKL bayinya sudah bisa diambil agar kami bisa membuat BPJS untuk bayi kami, dan tidak perlu membayar biaya perawatan RS. Aku telah memberitahu Risa untuk menanyakan hal tersebut lebih dulu kepada bidan Puskesmas sebelum ia berangkat. Ternyata pas Risa sampai, dia belum sempat melihat hape dan membaca semua pesanku, mungkin karena di Puskesmas sedang sibuk juga kali yaa. Pas Risa nyampe juga, ibu nifas dan suaminya masih ada di ruang tunggu itu, akhirnya mereka ngobrol dulu. Selesai ngobrol, kita pulang deeeeeh. Ngeeeeeng. Aku yang bawa motor Risa. So lets get the beat biru~
Sesampainya di Puskesmas, Risa langsung pulang. Aku juga sempat menceritakan secara singkat apa yang terjadi di RS kepada Ka Nathan. Hari ini jadwal dia dinas, sedangkan aku dan Risa lepas, se-usai 24 jam, besok kami harus masuk pagi lagi. Rapi-rapi tas dan lain-lain. Sebelum pulang aku juga sempet pamit ke Ka I dan bertanya apakah SKL bayi Ny.M sudah bisa diambil? Karena orang tua dari bayi tersebut ingin membuat BPJS bayi agar tidak membayar biaya perawatan RS. Dan alhamdulillaahnya SKL sudah bisa diambil. “Dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan”. Saya pamit pulang ya, Ka I, Assalamu'alaykum …
“Ngeeeeng, ngeeeeng”. Sampai di gerbang Puskesmas, ku hentikan motor, aku harus sempetin sms Ny.M yang bayinya lagi di rawat untuk memberitahu tentang SKL (Surat Keterangan Lahir). Ditakutkan, kedua pasangan suami istri tersebut menunggu infoku di RS. Alhamdulillaah masih bisa sms. “Ngeeeeeng”, lanjut pulaaaaang, walaupun pikiran tentang keadaan ibu hamilku pasti ada :( tapi semoga ia baik baik saja, aamiin. Sepanjang perjalanan .. aku udah somnolen, kadang merem, melek, sadar, nggak sadar, sempet buka helm dan masker biar udara masuk lalu sadar. Minggir dan minum dulu nggak yaa? Tahan 6 jam lagi, bentar lagi. Tutup helm lagi, merem lagi, melek lagi, merem merem merem merem merem …… udah kaya masuk ke dalam mimpi, di dalam mimpi itu aku seperti kecelakaan, agak agak kurang jelas, tak terasa apa apa juga, oh iya emang mimpi kali yaa, emang nggak kerasa juga, kata hati yang udah mulai ngelantur. Sekarang aku percaya, tidur kurang dari 6 jam dalam sehari itu bisa membuat orang seperti nge-fly. Mungkin begitu rasanya.
"Mba? Mba bangun, Mba banguun!"
Ku coba tuk membuka mata. Pusiiiiing sekali. Pusing di kepala sebelah kananku membuat telapak tangan ingin menyentuhnya dan ternyata berdarah.
“Ini dimana ya, Pak?” (Padahal itu rute aku biasa PP baik kuliah maupun dinas).
“Nomer orang tuanya berapa? Nomer bapaknya berapa?” tanya salah seorang bapak-bapak diantara beberapa orang yang berada di depanku.
Dengan mata tertutup, tangan kanan yang selalu menyentuh kepala akibat pusing, ku raba tas dengan si kiri untuk mencari handphone dan menunjukkan nomor Bapak. Namun hal itu tak membuahkan hasil, karena aku tak menemukannya.
“08xxxxxxxxx7 , coba Pak itu nomernya.” Ku beri tau nomor yang menurutku saat itu adalah nomor Bapakku. Alhamdulillah, bukan nomor lain yang ku sebut.
Ternyata kecelakaan beneran? Ya Allah … pusing, aku pasrah. Aku juga sempat lihat di telapak tangan kiriku tercatat nomer plat angkot yang katanya tabrakan sama aku. Seperti pernah mimpi ini, tapi dulu, tapi dulu mimpinya kaya gimana?.
“Mba, motornya ada disana ya.” Kata salah satu bapak-bapak sambil menunjukkan motor gigi hitam biruku yang sudah .. sisi lampu kanan pecah, sayap kanan retak dan patah, kaca spion kanan copot. 
“Ini Mba, udah nyambung nomernya.” Sambil memberikan handphone miliknya kepadaku.
"Ndo? Ndo?" suara bapakku dalam telepon itu.
"Pusing …kepala aku pusing, Pak" Hanya itu yang bisa ku katakan ketika mendengar suara bapakku dalam telepon. Dan tanpa izinku, air mata mengalir begitu saja.
Bapak-bapak yang menolongku lalu menjelaskan keadaanku. Tiba-tiba aku mendengar ada ibu-ibu lewat naik motor sambil berkata …
"Ya ampuuuun, kasian banget ini kenapaa?!"
Akhirnya ia merebut telepon genggam yang sedang terhubung dengan bapakku dan berkata …
"Bapak ini kasian banget anaknya mau dikemanain?! Harus segera ditanganin! Cepet ambil keputusan, Pak, ke RS terdekat atau gimana?! Tapi saya nggak bisa nemenin, saya mau nganterin anak saya sekolah dulu, Pak."
Saat itu aku hanya bisa tertidur. Ketika melihat segelas teh manis lengkap dengan sedotan putih di dalamnya terletak di sebelah kananku, entah sudah ditawarkan atau belum, atau karena inisiatif sendiri agar pusingku bisa sedikit hilang, saat itu juga aku langsung menyeruputnya dan sadar bahwa aku sedang membatalkan puasaku. “Rezeki anak sholehah, dapet bukaan gratis, manis, hangat, padahal bukan di rumah, hihihi,” kata malaikat sebelah kiri. | "Anak sholehah dari mananya? Mau sholat tahajjud? kalah sama syetan! Mau puasa? sekarang malah buka! huh" malaikat sebelah kanan, tak ingin kalah.  Lalu aku dibantu naik motor dan boti ke RS terdekat. Sepanjang perjalanan , aku hanya bisa memejamkan mata karena pusing.
Sesampainya di RS, dengan bantuan kursi roda aku menuju IGD, pasrah terhadap asuhan keperawatan yang akan diberikan. Aku diberikan oksigen tapi itu tak berfungsi dengan hidungku  yang bampet akibat tangis.
“KTP nya dimana, Mba? Kata bapak-bapak yang menolongku.
“Ada di tas, Pak. Ambil aja, ada kartu BPJS juga.” Jawabku dengan mata terpejam
“Disini nggak terima BPJS, Mba.” Teriak beliau sambil berlalu menuju meja pendaftaran
“Yauda, nda apa, Pak.” Suaraku lirih
“Habis dinas dimana, Ka?” Kata salah satu kakak perawat yang menanganiku.
“Iya, Ka. Aku masih mahasiswa.” Jawabku.
“Mahasiswa mana?”
Percakapan tersebut berlanjut hingga darah yang keluar dari kepalaku teratasi. Oksigen yang bisa membuat pusingku mungkin berkurang tetap saja tak bisa masuk akibat tangisanku sendiri. Aku harus bernafas melalui mulut. Ketika melihat para tenakes hilir mudik kesana kesini di depan mataku, aku terpikirkan suatu hal, biasanya, seragam ini selalu menemaniku dinas di IGD sebagai pemberi asuhan, tapi kini, ia menemaniku sebagai orang yang diberi asuhan. Seragam OK biru kesayangan yang Alhamdulillah ia tak terluka sedikit pun, mungkin hanya pada daerah lutut yang berubah menjadi sedikit pudar.
Sekitar pukul 14.30 WIB, rajaku sampai. Beliau datang dari Bogor, dengan jaket hitam yang selalu ia kenakan setiap harinya, ia menghampiri dan langsung memberikan usapan lembut di kepala putri pertamanya ini. Kecepatan apa yang bisa membuatmu datang secepat ini, Pak? Aku hanya bisa mencium telapak tangan, mengucapkan permohonan maafku dan menyandarkan kepalaku di pundak depannya. Tangisan yang sempat terhenti, kembali pecah saat itu juga. Aku tak ingin tidur meski pusing, karena hal itu membuat hidungku tak bekerja dengan baik. Lalu bapak menelpon ibu, saat itu juga tangisanku semakin deras, maafkan aku ibu …
Kurang lebih 30 menit kemudian ibuku datang bersama Ari, Alhamdulillaah Ari sedang tidak dinas saat itu, terimakasih banyak adeku, aku hanya bisa mengucapkan permohonan maaf kepada ibu dan bapakku, semuanya menangis saat itu, tapi aku tak tau Ari menangis juga atau tidak. Kupikir dia pasti lebih tegar :'D. Aku di-skintest, yang biasanya nge-skintest. Aku di CT-SCAN di ruangan yang begiiiiiitu dingin, tak nyaman. Dan kakak perawatnya entah dia terlalu sigap atau bagaimana, ia membawa rostur dengan kecepatan tinggi, padahal kepalaku lagi pusing tahu, Kak. Setelah di-CT-SCAN aku disuntik obat, sakiiiiit, hehehe. Ngerasain IC untuk yang kedua kalinya setelah dulu belajar nge-IC-in temen dan di-IC-in, di Lab, bersama  dengan teman-teman tersayang (Anabel). Tapi nggak lama setelah diberikan obat tersebut pusing dan sakit kepalaku berkurang. Setelah menunggu hasil CT-SCAN dari dokter, aku boleh pulang. “Alhamdulillah… betapa sayangnya Allah sama aku, aku masih bisa berjalan dan menegakkan tubuhku. Semua itu kekuatan dari Allah.”
Taksi yang aku, ibu dan bapak tunggu tak kunjung datang, akhirnya aku dibonceng bapak sedangkan ibu naik ojek. Sesampainya kami di rumah, aku hanya bisa bersyukur kepada Allah, Alhamdulillah … bisa pulang. Benar bahwa rumahku adalah istanaku. Kedua adikku nggak berani melihat mba-nya. Mereka terdiam kaku. Entah apa yang mereka pikirkan, namun hal itu tak bisa ku pungkiri begitu menggelitik meski bibir ini hanya bisa tersenyum. Baru kali ini mereka nda berantem ataupun teriak teriak di rumah. Lalu, keluarganya Ari dan Mba Anis datang. Terimakasih banyak pakde dan bude haji atas doanya. Terimakasih atas saran dan perhatiannya. InsyaAllah setelah ini aku akan lebih ikhtiar lagi, aamiin aamiin yaa robbal alaamiin.
Seminggu di rumah, tidak dinas, tidak kerja keras, benar benar hanya di rumah, jasmani dan rohaniku begitu haus. Entah apa yang ku pikirkan. Setiap bapak pulang kerja, pasti melihat keadaanku. Padahal setiap hari kami bertemu. Subhanallah … Allah begitu sayang padaku. Alhamdulillah …
Dalam waktu semingu itu juga anak-anakku menjengukku. Ya benar, mereka itu seperti anak-anakku dengan keunikannya masing-masing, nggak bisa dijelasin lagi seperti apa, tapi aku sayaaaaang banget sama mereka, entah kenapa intinya aku sayang mereka, mereka, ya, mereka, Anabel. Maafin aku karena harus memberikan berita duka ini kepada kalian. Maafkan aku dan terimakasih banyak. “Lagi lagi dan lagi betapa sayangnya Allah kepadaku”. Hamba memohon kepadaMu Ya Allah … kirimkan mereka pangeran yang luar biasa suatu hari nanti, satu per satu. Mereka adalah perempuan-perempuan yang luar biasa Ya Allah. Terimakasih Fina, Pida, Sisil, Tika dan Sesa. Telah menyempatkan waktu padatnya saat dinas PKK III ini. Kasih sayang kalian yang membuat aku sangat cepat sembuh. Eaaa. Terimakasih Farah, teman SMA yang kenal pula dengan Fina. Hingga susu coklat yang ia berikan bisa membuat kakiku lebih tegap berdiri. Tsaah. Terimakasih Heidy dan Abel, sepulang kuliah langsung menjengukku meski lelah. Maafkan aku merepotkan terus. Terimakasih Mamanya Heidy, Bidan Isabella, maafkan aku ibu karena membuatmu khawatir juga. Kemarin konsul tentang tugas akhir sekarang malah kasih kabar seperti ini. Terimakasih atas doanya.
“Yakin ndo udah bisa dinas?”
“Iya, Bu, InsyaAllah, doain yaa”
“Bismillah …”
Motor yang kini didominasi dengan warna hitam karena perawatan yang ia terima pasca kejadian itu harus bekerja keras lagi bersamaku mengarungi daratan beraspal. Saat itu juga kedua kakiku baru bisa berkata bahwa mereka masih membutuhkan perawatan. Ketika kaki kanan harus melakukan pekerjaannya untuk mengurangi kelajuan si hitam, ia pun baru bisa berkata bahwa ini begitu menyiksa.
“Alhamdulillah … Betapa sayangnya Allah kepadaku, aku hanya tidak dinas 3x24 jam (1 minggu), dan Allah mengizinkanku untuk bisa membayarnya. Betapa sayangnya Allah kepadaku, aku masih diberi kesempatan untuk bisa memberikan asuhan kebidanan masa nifas pada Ny. H meski telah lewat 1 minggu. Allah … masih, terus, dan selalu memberikanku nikmat yang luar biasa”.
Kejadian ini harus kuulas saat kembali dinas. Baik kepada dokter, bidan maupun teman-temanku dari akbid lain. Hingga Kakak-kakak Akapela pun tahu. Maafkan saya ya, Ka. InsyaAllah semoga nda terulang, aamiin. Mata dengan hematom dan oedema yang tak dapat disembunyikan menambah kejelasannya.
“Ngit, ngit, sedih sebenernya, tapi kalo denger ceritanya karena ngantuk, jadi gimana, ya?” Ungkap teman-temanku dengan canda tawa.

------------- RS -----------
                Saatnya PKK III di RS. RS yang menjadi doaku untuk bisa dinas disana lagi setelah PKK II berlalu. Meski saat itu rasanya tak mungkin karena kesempatan kedua akan diberikan kepada teman yang belum pernah dinas di RS tersebut. Tapi, Allah Maha Mendengar, Maha Berkuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengabulkan doa seluruh hambaNya. Aku termasuk ke dalam list mahasiswi yang dinas disana lagi. Saat aku tahu tentang hal ini, segera ku hubungi kedua teman yang se-doa dan se-nasib denganku yaitu, Sucy dan Syifa. Alhamdulillah, MasyaAllah. Betapa hebohnya kita bertiga. Ampuuuun.
Entah kenapa, meski harus berangkat jam 05.00 WIB naik motor ke Stasiun Bekasi, harus dapat KRL dengan pemberangkatan pukul 05.57 atau 06.10 WIB, harus sampai di Stasiun Cikini paling tidak pukul 07.00 WIB, harus jalan kaki mengitari Stasiun Cikini untuk bisa keluar gerbangnya, Universitas Bung Karno, Metropol Cinema XXI, Jalan Kimia dan baru bisa sampai tepat di depan IGD RS yang ku tuju. Aku bahagia. Aku bersyukur. Ini merupakan salah satu mimpi yang dikabulkan Allah saat aku duduk di bangku SMA. Begitu banyak ilmu yang didapat ketika aku dinas di sana. Aku belum pantas untuk bisa berkata “bisa” ketika masih begitu banyak kekurangan. Aku pun berjumpa dengan kakak kakak alumni yang luar biasa. Bertemu dengan rekan-rekan baru yaitu Mahasiswi DIII Kebidanan PKJ I.
Pada suatu waktu, shift sore akan berlalu, namun temanku tak kunjung datang, apa yang terjadi? Ternyata, kemacetan yang luar biasa terjadi akibat rel KRL di salah satu stasiun ambles dan tak bisa dilalui seperti biasanya. Semua orang beralih ke angkutan umum. Bagaimana caraku pulang?
“Tanri, kamu pulang naik apa?” Tanya teman baru dari PKJ I
“Hmmm …..” Pikiranku kosong dan hanya bisa membayangkan apakah terbang merupakan salah satu cara yang tepat untuk bisa sampai ke Bekasi.
“Tan?! Aku pesenin &^^%K aja, ya?” Tanyanya memecahkan lamunan.
“Ah, iya boleh, tapi apa bisa?!”
“Kita coba, ya!”
“Tan, sini-bekasi 41 KM. Belum ada yang nerima juga. Ada yang lebih deket nggak, Tan? Nanti transit ganti &^^%K lain” Tanyanya.
“Ooh, begitu ya, yauda sampe MM aja bisa nda?” Jawabku pasrah.
“Yaudah, Tan. Ini tetep aku pesenin. Nanti kalo udah ada kabarnya aku kasih tau kamu, ya?!”
Ia beranjak pergi. Aku? Masih menunggu kepastian di depan IGD. Perut tak bisa berkutik untuk tak diisi oleh sesuatu. Ia tahu saja kalau di tasku ada bekal yang belum ku sentuh. Makan di pos jaga. Sambil menengok handphone beberapa kali. Batraiku akan habis beberapa detik lagiiiiiii. Tengok sana sini, ada colokan. Alhamdulillah dapet izin nge-cas. Tiba-tiba, aku mendapat pesan dari nomor yang tak kukenal. Ternyata, itu &^^%K ku. Ia berkata bahwa ban motornya bocor dan harus di tambal dulu. Baiklah, tak apa. Aku akan menunggu dan menghabiskan makanan ini. Sesampainya si &^^%K. Ngeeeeeng! Sampai di MM pukul 22.45 WIB. Alhamdulillah masih ada angkot 02. Bismillah, naik. Sampai di terminal Bekasi. Loh?! Kenapa angkot 19 A udah pada nggak ada?! Beserta suasana yang sepi, udara di sekitar pun tak bisa menyelimutiku dengan kehangatan. Angin malam begitu menusuk ragaku. Hanya ada beberapa ojek yang tersedia. Ku pilah dengan hati siapa yang terbaik tuk bisa mengantarku sampai rumah dengan selamat. Alhamdulillah … Allah Maha Memberi Keselamatan.
“Ndo, ko baru pulang?” Tanya seorang malaikat yang sedang menungguku
Ku ceritakan semua kejadian malam itu. Istirahat. Besoknya. Dinas lagiiiiii. Meski hanya tidur 6-7 jam setiap dinas disana (PKK II) dan banyak cerita seru saat (PKK III). Semua itu tak membuatku merasa bosan dan jenuh. Langit malam dan suasana Jakarta dengan hiruk pikuknya memberikanku berjuta pelajaran dan pengalaman berharga hingga hikmah dapat dipetik untuk kuabadikan dalam perjalanan selama menjadi mahasiswi DIII Kebidanan. Semua itu, sangat indah. Meski terlihat sulit, Allah selalu beri kemudahan hinggaku tersenyum sendiri dalam lamunan.
Motor gigi hitam biru yang tak bisa ku ambil malam itu karena tak pulang dengan KRL, harus menginap lebih dari sehari. Biaya penitipan pun lebih dari hari-hari biasanya. Dan tidak adanya dia di rumah, membuatku harus mengatur waktu dengan menggunakan angkot agar tidak telat.
------------ BPM -----------
Dinas RS berakhir, saatnya ke BPM. Alhamdulillah, tempatnya sangaaaaaaat dekat dengan rumahku. Ini adalah tempat dinas terrrrrrrdekat dalam hidupku. Serius. Rasanya. Subhanallah …Alhamdulillah. Terimakasih partner cantik BPM, Cladera Chairi.

------------ RUMAH DIBONGKAR -----------
Selama menjalani proses pembuatan proposal laporan tugas akhir, sidang atau seminar proposal laporan tugas akhir, mulai dinas di Puskesmas (+kejadian itu), Rumah sakit, BPM, ujian OSCE PKK III dan berakhir dengan sidang laporan tugas akhir . Selama itu pula rumahku sedang di renovasi. Rumah yang sangat tak tega untuk aku, bapak, ibu dan kedua adikku hancurkan setiap minggunya. Benar. Bahwa setiap minggu kami sekeluarga menyicil untuk membobrok setiap sisi -sisi dinding. Kenapa? kata bapak kalau tukang yang mengerjakan ini akan memakan waktu dan uang. Jadi, cara ini termasuk tips untuk menghemat pengeluaran sebelum memanggil tukang melanjutkan renovasi rumah, hihi. Saat dinding dinding rumahku sedang “di-kulit-i”, aku masih bisa tinggal disana. Namun, tepat seminggu setelah aku dinas di RS. Aku dan keluarga harus pindah ke tempat sementara karena rumah berusia 21 tahun ini sudah tak beratap. Sedih rasanya. Saksi bisu pertumbuhan dan perkembanganku dari 0-21 tahun kini sudah berubah. Terlihat kayu kayu yang sangat rapuh dan lembab. Warnanya gelap dan sangat tua. Memang sudah waktunya.
Terjadi perselisihan dalam diriku. Ingin berkata tidak, namun tak mampu. Bagaimana bisa? ketika aku dan adikku sedang berada pada masa-masa akan dan sedang menghadapi berbagai macam ujian kelulusan, kami harus melaluinya dengan situasi yang seperti ini. Aku dan adikku harus beradaptasi. Dan aku yang paling tak bisa menyembunyikan isi hatiku. Bibirku terdiam membisu. Namun tidak dengan mataku. Setiap hari aku harus mengolah emosi dan mencukupi kebutuhan psikologis.
Jujur, selama itu pula tugas akhirku masih saja berada pada BAB III. Ya, benar. BAB yang diselesaikan sebelum seminar proposal laporan tugas akhir. Hingga berbulan-bulan tak ada kemajuan. Materi yang tak kunjung ku temukan. Acuan yang tak bisa didapatkan. Dan titik terang yang belum juga terlihat hingga dinas PKK III berakhir. Bagaimana bisa BAB IV, V dan VI dapat ku selesaikan? Aku masih saja optimis untuk bisa menyelesaikan ini seminim apapun “pendapat pribadi” dan “pendapat orang-orang” tentang referensi dan hal-hal lainnya. Hampir saja aku kalah dengan godaan untuk menyerah. Walau ku tak tahu, tapi aku ingin.
Bagaimana dengan saudara saudariku yang harus tinggal dengan keadaan yang mungkin “lebih” dari pada ini? Ketika ia masih harus berjuangan untuk bisa menuntut ilmu dengan berbagai macam ujian yang bersikukuh menghadang di depannya. Sedangkan aku? Allah memberiku begitu banyak nikmat yang luar biasa. Aku malu.
Move on, Tanri! Ya. Aku berusaha untuk bangkit. Pasti ada hikmahnya. Selain tugas akhir yang menuntut untuk dikerjakan. Ujian OSCE PKK III juga tak ingin kalah. Alhamdulillah … Allah memberikanku Eccy. Belajar persiapan ujian OSCE PKK III di rumahnya sambil nginep dan nyemil-nyemil. Di sana pula untuk pertama kalinya aku jadi obat nyamuk, karena Yogi ingin “ber-silaturahmi” dengan Eccy. Dapat doa dari Mamanya Eccy. Dapat doa dari Ibu juga. Alhamdulillah ... lulus ujian OSCE PKK III.

------------ PERSIAPAN SIDANG -----------
Aku masih harus memperbaiki BAB I, II dan III. Menyusun BAB IV, V dan VI. BAB I InsyaAllah fix dengan rumusan masalah “Bagaimana Asuhan Kebidanan Kehamilan pada Ny. H dengan Tunarungu Wicara?”. Setiap aku memikirkan laporan tugas akhirku sendiri. Selalu terlintas, melayang-layang, terbayang-bayang beberapa kalimat …
“Lo mau bikin buku Taaan .. gimana caranya ngasih asuhan kebidanan kehamilan dengan ibu hamil tunarungu wicara?!”
“Gimana caranya, Taaaan?!”
“Ya emang bukunya nggak ada, atau lo belom nemu, tapi yaa nggak gitu juga kali, Taaaan?!”
“H-2 minggu masih aja ngutek ngutek BAB I, II, III dan IV?!”
Rasanya memang tak mungkin untuk membuat buku seperti yang selalu dipertanyakan oleh otak dan hatiku. Tapi, konsepnya sudah dipergunakan saat memberikan asuhan kebidanan pada Ny. H. Meski apa adanya, berusaha saja ya Tan. Sedikit-dikit. Secuil-cuil.
Bingung, bingung, bingung, bingung. Konsul, konsul, konsul, konsul. Rumusan masalah yang membuatku berpikir untuk membuat buku itu akhirnya bisa lebih jelas dengan tujuan umum dan khusus yang telah dicerahkan oleh kedua pembimbing. Alhamdulillah. BAB I? Bungkus. Yang akan aku bahas nanti adalah, proses komunikasi, cara meningkatkan pengetahuan ibu hamil, proses evaluasi dari asuhan, serta megetahui strategi dan hambatan yang ditemukan.
BAB II juga masih ada yang harus dihilang dan tambahkan. Termasuk materi komunikasi klien hamil dengan tunarungu wicara yang hanya ada dalam bahasa inggris. Walau demikian, hal itu sudah sangat ku syukuri. Karena data penelitian asuhan kebidanan kehamilan pada ibu hamil dengan tunarungu wicara pun tak kutemukan hingga detik aku menulis diary ini. BAB II? Bungkus.
BAB III tentang metode studi kasus. Poin pentingnya yaitu pada perencanaan asuhan. Alhamdulillah kalau yang ini revisi terdikit dari BAB BAB yang lainnya. BAB IV tentang tinjauan kasus. Apakah sesuai dengan metode? Alhamdulillah … terjadi sedikit perubahan rencana karena “kerjadian” itu.
BAB V, pembahasan. Nah, ini yang paliiing, sangaaat, pastiii, dikoreksi, diperbaiki, disinkronkan, dibedah, dibenahi, diotak-atik, diputer balik, dipandangi, diresapi, dihayati, dicelupin, diangkat, dikasihi, disayangi, dicintai pokoknya. Subhanallah, MasyaAllah dosen pembimbing pertamaku memang sangat ingin semua pembahasan mahasiswinya itu terrr-maksimal usahanya agar hasilnya, baik. Aku dapat beberapa masukan mengenai …
“Kalau bisa yang kamu bahas bukan hanya pada Ny.H. Tapi apa yang kamu temukan pada Ny. H, kamu kembangkan rumusannya supaya bisa jadi acuan untuk memberikan asuhan kebidanan kehamilan pada ibu-ibu hamil seperti Ny.H.”
“Ini masih kurang dalam, Tanri. Coba yaa dicari lagi. Tambahkan yaa supaya lebih runtun, detail dan jelas.”
              “Dalam proses evaluasi, kamu bahas menggunakan cara triangulasi ya, Tan.”
              “Dibagian hambatan dan strategi coba diluaskan lagi bagaimana ……………………….?”
              H-1 minggu sidang masih beberapa kali konsul dan revisi BAB V. Seselesainya BAB V. Yuk, ke BAB VI. Alhamdulillah, BAB VI, fix. Dan yang paling menyenangkan, ketika aku dan Ka Nathan beberapa kali menunggu untuk memohon persetujuan sidang dalam antrian yang sangat panjang, sampai, tepat, di depan dosen pembimbing, masih ada yang harus diperbaiki. Akibat yang terjadi karena ulah sendiri juga, hihi. Keesokkan harinya, kami berlima, aku, Ka Nathan, Iyi, Ivaa dan Risa, menghadap untuk meminta restu sebelum sidang. ACC UJIAN.

---------SIDANG-----------
               “Ya Allah, semoga sidang hari pertama, aamiin.” Dalam doaku.
               “Yakin udah siap, Tan?!” Ucap hatiku.
“Siap nggak siap aku ingin segera sidang.”
Alhamdulillah … Allah mengabulkan doaku. Alhamdulillah juga … sidang Anabel terjadi pada bulan Ramadhan. Karena ada banyak hal yang harus disyukuri saat sidang di bulan suci ini. Namun yang tak kami duga …
“Bagi mahasiswi yang akan ujian pada hari pertama, jadwalnya harus diundur menjadi hari terakhir karna satu dan lain hal.” (Ini ada ceritanya sendiri).
Ya Allah … pasti ini yang terbaik, aamiin. Sangat bahagia ketika melihat teman-teman sudah melewati sidang dengan luar biasa. Subhanallah, MasyaAllah. Sudah foto-foto dengan penguji, foto pakai balon dan bunga, foto pakai mahkota dan selendang seperti miss universe, hehe. Bukan kok, bukan itu yang menjadi tujuan utamaku sidang. Aku ingin segera diskusi dengan kedua penguji. Banyak pertanyaan yang kumiliki dan tak kuketahui jawabannya. Selain itu, ingin segera mempresentasikan PPT terrr-niatku.
“Tanri, PPT nya jangan pakai bunga-bunga ya.”
“Serius? PPT ku udah ada pelanginya, pantai, warna biru, bunga, warna-warni.”
“Hahaha, Tanri … Tanri.”
Meski demikian, aku tak mengubah PPT ku sedikit pun. Peace.
Sejak seminggu yang lalu, aku sudah mendeklarasikan mengenai sidang. Karena diundur, setiap hari aku selalu memohon doa tentang sidangku kepada semua orang, terutama kedua orangtua. Pagi itu, semuanya InsyaAllah sudah siap. Ibu dan bapak menyertai keberangkatanku dengan restu.
“Masuk pagi, Tanri?” tanya Bude Haji, ibunya Mba Anis.
“Iya, Bude Haji, doain yaa.” Kataku.
“Masih ada ujian ternyata.” Timpal bapakku dengan candanya.
“Assalamu’alaykum …” Salamku.
Sesampainya ku di kampus, hanya ada beberapa orang. Sesampainya ku di lantai 4 ruang 4.3, ruangan aku sidang, masih sangat gelap. Seram. Pergi ke kosan teman untuk mengambil buku referensi terlebih dahulu. Ketika kembali ke ruangan sidang, masih saja belum ada orang. Aku ke lantai 6. Melihat lantai Sesa dan Tika sidang. Semuanya sangat …bersemangaaaat.
Aku turun ke ruang sidangku lagi. Ketiga teman seperjuangan sudah hadir. Lalu aku dipakaikan lipstick berwarna merah terlebih dahulu oleh Iyi. Biar segar katanya. Saat melakukan gladih resik sidang, tiba-tiba salah seorang mahasiswi bimbingan dosen yang akan mengujiku berkata seperti ini ..
“Bu X enggak suka kalo judulnya ada Asuhan Kebidanan-Asuhan Kebidanannya.”
“Bukannya itu tergantung bahasan?” kata hati kecilku tuk menenangkan.
“Tan …” Kata Iyi.
“Nda apa, Yi. Bismillah.” Usaha untuk menenangkan diri sendiri dalam 30 menit menjelang sidang.
“Nggak apa-apa udah, tenang.” Kata Ka Nathan.
Kocok kocok kocok, kita memang hobi melakukan sistem kocok dalam hal apapun. Dan ini saat yang paling aku tunggu. Jujur, aku sangat berharap bisa sidang pertama. Seperti seminar proposalku. Lebih cepat lebih tenang, hehe. Namun kali ini tidak. Aku mendapat nomor urut ke-4.
Pertama, Ka Nathan …
Kedua, Risa …
Ketiga, Ivaa …
Keempat, Aku …
Kelima, Iyi …
Judul tugas akhir ketiga temanku yang maju lebih dulu, tidak ada kata “Asuhan Kebidanannya”. Dan akulah yang membuka sidang itu dengan judul “Asuhan Kebidanan”. Bismillah.
ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. H DENGAN TUNARUNGU WICARA
DI PUSKESMAS KECAMATAN M.
TAHUN 2016
Aku tak tahu apa yang selalu dibahas kedua penguji saat aku sedang presentasi. Sesekali aku menoleh kepada teman-teman satu kelompok yang selalu mengangguk disertai senyuman hangat. Dalam waktu 15 menit itu, aku bertanya-tanya. Kenapa kedua pengujiku selalu diskusi dan terasa tak memperhatikanku? Salahkah aku? Baiklah, ku tutup dengan kalimat testimoni ibu hamil dengan tunarungu wicara dan dokumentasi selama aku memberikan asuhan. Terimakasih, tidak boleh lupa. Duduk di kursi hangat.
Penguji 1 :
“Tanri, bagaimana rasanya memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil yang berkebutuhan khusus?”
“Bagaimana cara kamu berbicara kepada beliau dan keluarganya?”
“Ini sudah ada penelitiannya, Tan?”
“Kamu sempat membahas mengenai triangulasi, kamu tahu artinya triangulasi?”
Penguji 2 :
“Sudah. Tidak ada revisi” Sambil membolak-balik tiap lembar dalam laporanku.
Kedua penguji :
“Saya tidak tahu ada nilai yang lebih tinggi dari A atau tidak untuk laporan tugas akhir ini.”
“Seperti skripsi ini, ya?”
“Dijadikan jurnal Poltekkes saja.”
“Baik. Tambahkan jurnal lagi ya, Tan. Cari saja di ……(situs-situs jurnal luar internasional)”.
“Jangan lupa. Ini untuk semuanya. Tetap jaga tali silaturahmi dengan klien-klien kalian yaa. Mereka adalah keluarga baru kalian sekarang.”
“Selamat yaa.”
“Ini ibu bawa yaa LTA kamu, buat kenang-kenangan.”
Subhanallah .. MasyaAllah .. 2 dosen penguji muda, teoritis, kritis, teliti, fresh, mengatakan hal demikian? Kupikir, akan ada pembahasan tambahan setelah sidang ini. Tak apa. InsyaAllah aku sudah siap dengan itu. Siap mengerjakan revisi-an. Rencana awal kan, mau bikin buku, buku diary, hehe. Teman-teman 1 kelompokku, bersorak riang. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum untuk menyampaikan bahwa aku tak tahu lagi harus mencari jurnal kemana. Tentu dengan kemampuan bahasa inggrisku yang seeeee .. gitu dah.
Selama sidang itu pula, aku melihat sepatu dan rok merah muda selalu mondar-mandir di depan ruang sidangku. Beberapa kali, terlihat kamera sedang mengambil gambar melalui pintu kaca ruang sidang kami. Sedang ada dokumentasikah? Ternyata, saat aku dan teman-teman sudah selesai sidang. Seseorang menghampiriku dengan bunga cantik beserta hiasannya. Pertama kalinya aku diberikan bunga, dan seindah ini.
“Siapa, Tan?”
“Heidy.”
“Ciye ……”
“Heidy itu perempuan!!!!!”
“Ups! Hahaha.”
Selalu seperti itu tanggapan teman-temanku tentangnya. Terimakasih Heidy Puspa Alyssa.

----------- HARD COVER ----------
Kami harus kembali berjuang. Iyi sampai menginap di rumahku. Buka puasa, teraweh, dan sahur bersama. Bergadang? Tentu. Sampai akhirnya, softcopy laporan tugas akhir sudah berada dalam CD. Dua jilid laporan pun sudah dalam map. Ketika menghadap untuk penyerahan jilid-an ..
“Tanri Lindawati. Saya ingin baca dulu ya, seperti apa laporan tugas akhir yang mendapat nilai A.” Ucap dosenku.
“Ibu .. bisa tahu?” kata hatiku. Hening. 
"Terimakasih, Bu .." Jawabku, tersipu malu.

Cerita laporan tugas akhirku. Laporan tugas akhir dengan kekurangannya. Laporan tugas akhir yang masih ingin kukembangkan. Laporan tugas akhir yang memberikanku inspirasi untuk menulis buku asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan tunarungu wicara, entah bisa atau tidak. Aku masih dan akan terus berdoa, agar cerita laporan tugas akhir ini dapat bersambung. Di dalamnya, tertulis harapan-harapan yang ingin diwujudkan. Aamiin aamiin yaa robbal alaamin. Terimakasih J
Subhanallah, MasyaAllah, hanya Allah yang dapat membuat skenario indah seperti ini,. Hanya Allah. Setiap detik. Hanya Allah dengan AsmaNya. Aku tak bisa apa-apa. Aku tak tahu kenapa? Aku tak tahu mengapa? Yang menguatkanku? Allah. Yang memberikanku kesabaran? Allah. Yang membuatku sembuh usai "kejadian itu"? Allah. Yang memberikanku kesempatan untuk terus berusaha menyelesaikan laporan tugas akhir ini meski terasa "nggak mungkin bisa"? Allah. Yang memberikanku kebahagiaan setiap detiknya? Allah. Yang mengubah sedih dan kecewaku? Allah. Yang melindungiku? Allah. Yang menuntunku untuk melangkah dengan keyakinan? Allah. Yang selalu sabar dan memaafkan dosa-dosa yang telah ku buat terutama ketika aku masih belum bisa bersyukur? Allah.
Bersambung …
0

SAHABATKU

SAHABATKU



0

ALLIUM


ALLIUM


Mulai dari sebelah kiri atas itu ada nomor kasur : 56, 43, 50, 44, 48, 59, dan 45
Dari kiri tengah ada : 49, 52, 42, 57, 46, 53, 60, dan 41
Kiri bawah : 58, 51, 47 dan 55


Walaupun satu kamar, kita terdiri dari kelas yang berbeda loh ..


Walaupun begitu, tetap satu jua !


Berantem? pernah
Kubu - kubuan? pernah
Iseng bareng? pernah
Nakal? sering banget
Kompak? juara 1 kamar terbersih alhamdulillah 


Sebelah kananku namanya Eccy & Yunia


Kalau yang ini sih, bedmate tercinta, kerjaannya bikin kasur goyang-goyang kalo dia mau naik ke kasurnya yang di atasku -.-


Kalau Allah mengizinkan, boleh juga nih jadi model hijabers, aamiin


Duh ada calon brigadir cantik nih :O


Namanya aja Anjel, kebayangkan gimana baiknya dia?


Mereka berdua doang nih yang jago nge-model malam itu :p


Mereka ter-dermawati loh di kamarku 


Sebelah kananku punya nama yang artinya "tenang" kebayangkan kalau nanti jadi suaminya dia wehehe


Terimakasih viewers B)


Back to Top