LAPORAN TUGAS AKHIR
------------ MENCARI
-----------
“Kamu udah
ambil pasien?”
“Kita mau di
Puskesmas mana nih?
“Rame nggak
ya?”
“Pasiennya
rame, mahasiswanya juga rame, jangan di sana, ya!”
“Jadinya
dimana nih?”
“Coba tanya
anak-anak yang lain!”
“Yauda besok
kita kesana dulu aja gimana?”
“Harus bawa
surat nggak ya?”
“Oke, aku
urus surat.”
“Puskesmasnya
mau direnovasi. Belom bisa disana (Jakarta Utara).”
“Yaudah,
Puskesmas PKK II aja, ya.”
“Besok
ketemuan jam berapa nih?”
“Ke Kampus,
Puskesmas, terus ke Sudin, ya?!”
“Jangan lupa
bawa helm dua!”
Percakapan
yang tak akan ada hentinya jika tak langsung bergerak. Sebelum mengambil
keputusan, begitu banyak hal yang harus dipikirkan demi kebaikan kami berlima
hingga tugas ini berakhir. Aku, Risa, Ka Nathan, Iyi dan Ivaa. Kami berusaha
untuk selalu mengerjakan dan memiliki kemajuan yang sama hingga “misi” ini
berhasil. Proses surat menyurat dan perizinan telah kami lakukan. Saatnya untuk
mencari seseorang yang sangat istimewa. Aku dan kawan-kawan langsung menuju
tempat kejadian perkara agar bisa menemukannya. Ini bukan seperti detektif yang
ingin memecahkan teka-teki. Bukan seperti polisi yang ingin menemukan tersangka. Ataupun seseorang yang sedang mencari kekasih, dan hal lainnya seperti di
film-film yang sering kita semua tonton. Ini akan lebih meminta hati untuk berkata
siapa yang terbaik, meminta otak untuk berpikir apakah ia sehat, meminta kepada
Sang Maha Pencipta apakah ia yang sudah dituliskan-Nya untuk menjadi klien
dalam laporan tugas akhir kami. Seluruh kertas berwarna biru muda berisikan
data dasar, data subjektif, objektif, analisa dan penatalaksanaan telah kami
pilah dengan sangat apik. Berbagai macam cara untuk berkomunikasi dan berjumpa
dengan mereka telah dikerahkan. Kalimat seperti “Maaf mba, saya izin suami saya
dulu”, “Maaf mba, saya nggak berencana lahiran di sana”, “Iya mba, saya kan
kerja, jadi nggak bisa ke sana untuk periksa rutin dan belum tau juga mau lahiran
dimana”, “Saya punya riwayat operasi, mba”, “Apakah saya bisa menelpon pihak
sana dulu?”, “Kemarin juga tetangga saya ada yang didampingin sama seperti
mba-mba”, “Ini anak ke-5 saya, mba”, “Saya diperkirakan nggak bisa lahir normal
untuk anak kedua ini, mba”, tak dapat dihindari. Meski jalanan dari salah satu
daerah Jakarta Timur ini sudah bosan melihat kami mengelilinginya. Sungguh
jenuh, katanya. Berbeda jika salah satu dari kami mendapat jawaban seperti, “Oke
mba, aku seneng banget malah ada yang nemenin, bisa nanya-nanya kapanpun dan
nggak kebingungan, aku mau ko, mba”, Subhanallah … bagaikan hembusan angin
lembut nun sejuk merasuk perlahan melewati celah sel dalam
tubuh ini, mengeringkan butir-butir keringat yang kami pikir takkan hilang
untuk selamanya, disertai dengan hembusan yang dapat pula menarik bibir ini untuk tersenyum
merekah.
----------- KONSUL I
-------------
Saatnya
laporan kepada dosen pembimbing dengan hasil, Ka Nathan (Ny. L), Ivaa (Ny. R),
Risa (Ny. K), Iyi (Ny. Y) dan aku (Ny. H) atau (Ny. S). Dosen pembimbing adalah
salah seorang yang harus aku mintai restunya agar tugas ini berjalan dengan
lancar, mudah dan berkah. Terpilihlah (Ny. H) sebagai seseorang yang harus aku
dampingi dalam menjalankan “misi” ini. Bukan misi biasa, tapi misi yang luar
biasa. Misi untuk bisa menjadi bidan yang menerapkan head, heart and hand, aamiin.
“Tan, lo itu ………#)*$K=?q^%@?-#*(#)*$K=?q^%@?-#*(!#)*$K=?q^%@?-#*(!!”
“Tan, kamu
tau kan ini namanya tugas akhir?!!!!!”
“Tanri … aku
udah pernah ketemu seseorang yang spesial seperti itu. Bener bener harus sabar banget,
Taaaan!”
“Ya ampun,
Langit …”
“Aku yakin
kamu bisa ko, Tan!”
“Duh Langiit,
Langit …”
“Au ah,
Ngit!”
“Konsul
ulang, Tan!”
Dukungan,
masukan, tangisan, kasih sayang, cinta, kepedulian, kasihan, semuanya
terpampang jelas dari wajah dan tatapan mata satu timku. Mereka bisa membaca
isi hati dan otakku. Aku hanya bisa memohon doa dan restu dari teman-teman satu
kelompok bimbingan.
“Bu, aku
harus dampingin salah satu ibu hamil dengan tunarungu wicara, ini anak
pertamanya bu, doain aku yaa.”
“Loh, itu
bukannya …………?”
“Iya, Bu.”
“Ndo,
……#)*$K=?q^%@?-#*(#)*$K=?q^%@?-#*(!#)*$K=?q^%@?-#*(!!”
“Kalo ada
apa-apa gimana?” Tambahnya
“Enggeh, doain
ya, Bu.”
Doa,
merupakan kunci ketika bingung sedang menyergapmu. Bertanya, adalah
pelengkapnya. Sedangkan curhat, adalah bumbu dari setiap konsultasiku. Selain tanri’s diary, seperti biasa dan sudah
sangat biasa, Heidy Puspa Alyssa (sahabatku) adalah tempat bumbu yang selalu ku
isi dengan macam-macam bumbu. Terutama yang ini (nunjuk hati). Eaaa. Bercanda. Krik. Serius. Aku sangat
yakin sejak dulu, kepiawaian Heidy menjadi pendengar itu karena faktor turunan
dari mamanya, Bidan Isabella. MasyaAllah. Entah kenapa, walau aku dan Heidy
suka bercerita dengan menggebu-gebu. Beliau bisa membasuhnya dengan kalimat
lembut namun membangkitkan. Aku menceritakan mengenai keresahan dan ke-setengah
optimis+pesimis-an ku kepadanya. Lalu beliau menjabarkan apa yang bisa ku
lakukan agar topik ini lanjut hingga nanti sidang. Pada saat itu, ada Irli juga
sebagai saksinya.
8 akhwat
(sahabatku) sejak SMA juga tak akan ketinggalan tentang berita ini. Mahasiswi
Pendidikan (Bella & Denis), DIII Kebidanan (Kiky), Design Produk (Arini),
Biologi (Helen), Transportasi Darat (Yunita), Kedokteran Gigi (Nata), semuanya
aku wawancarai secara mendalam. Banyak sekali masukan-masukan dari mereka.
Haruskah kamu ke SLB, Tan?
Tetangga yang
merupakan mba dan masku pun tak boleh terlewatkan dari wawancara ini. Mba Anis
(Mahasiswi Pendidikan), Mas Dana, Ka Jo, Ka Nisa (Mahasiswi Kedokteran), Ayu
(Mahasiswi dari Jogja) dan adik-adik kesayangan (Lia & Uzhi). Restu harus
diluncurkan oleh mereka yang merupakan saudari plus sahabat dari orok
ini.
Aku juga
sempat diskusi dengan adik-adik kelasku, Iki dan Yopi, karena satu tempat
dinas. Kini, mereka yang akan melalui masa itu. Terimakasih dan semangat adik.
Pencarian
data dan informasi diluaskan hingga ke beberapa bidan yang tak jauh kediamannya
dari rumahku. Aku harus mewawancarai minimal 10 bidan sebagai survey
pendahuluan dalam laporan tugas akhir ini. Baik yang bekerja dalam sektor
pemerintahan maupun sektor swasta. Banyak sekali amanah yang disampaikan oleh
beliau-beliau. Banyak juga yang memberiku semangat. Alhamdulillah ada yang
nyemangatin, hihihi.
Aku juga
konsultasi dengan kakak-kakak bidan yang Allah pertemukan kami dalam satu grup WA.
Beliau sangat antusias dan rela mengetikkan nasihat yang MasyaAllah ..
--------------
PDKT ------------
Ku kembangkan
senyum dari biasanya. Hari yang paling membahagiakan adalah ketika akan
melakukan PDKT dengan seseorang yang kita sayangi. Aku bahagia bisa bertemu
dengan keluarga besar dari Ny. H. Aku bahagia bisa mengenal dan dikenal. Aku
bahagia jika yang bertemu denganku tak kunjung bosan meski ku datangi tiap
minggu untuk mengetahui bagaimana keadaan sang ibu dan janinnya. Hingga ia
tumbuh besar, menapaki jalan yang telah ditulis Sang Maha Pencipta dan menggapai
mimpi serta harapannya. PDKT? BERHASIL!
“TUNG” sebuah
tanda bahwa chat baru masuk dalam whatsappku. Dari Ny. H ternyata.
“Tanri, kamu
udah punya pacar belum? Mau nggak sama keponakan aku? Dia udah kerja juga kok.”
Tanyanya.
“TUNG” tanda
pesan kedua. Gambar dari Ny.H tambah.
“Ini
fotonya.” Jelasnya.
“Belum, Bu.
Doain yaa, hihihi” Jawabku.
“Kalo mau, nanti aku kenalin.” Ujarnya.
PDKT? SANGAT
BERHASIL! Ny.H lengkap dengan
keluarganya. Kalau ke rumah beliau, jujur aku tak selalu membawa buah tangan
atau bawaan, tapi aku yang selalu dibekeli, MasyaAllah. Semoga berkah, ibu dan
bapak, aamiin.
Selain
melakukan pendekatan dengan masing-masing ibu hamil yang memang didampingi. Aku
dan teman-teman satu kelompok bimbingan juga melakukan pendekatan dengan ibu
hamil satu sama lain. Terutama saat kunjungan pertama kali dan beberapa
kunjungan lanjutan. Terimakasih teman-teman karena telah berbagi waktu dan
senyum kalian. Terimakasih Iyi sudah menerapkan kesabaranmu untuk PDKT-an juga
dengan ibu hamilku.
-------------
SIDANG/SEMINAR PROPOSAL - ----------
“Jika nanti
saya menjadi penguji kamu lagi saat sidang LTA, saya akan bertanya bagaimana
cara kamu bisa membuat Ny.H mengerti dengan informed
consent yang kamu buat?!” Pertanyaan
sekaligus pernyataan penguji kedua yang merupakan dosen pembimbing keduaku
untuk tugas akhir ini.
“Baik, Bu.”
Jawabku dengan senyum beribu tanya.
“Gimana?
Ya Allah … aku harus bagaimana? Gimana, ya? Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok”
Kursi panas
yang menahan beban tubuh serta otakku berubah setelah penguji pertama yang
merupakan dosen pembimbing pertama menyarankan hal ini ..
“Begini aja,
Tan. Setelah seminar proposal ini, kamu konsultasi dengan beliau caranya
bagaimana?!” Tantang dosen pertama.
“Ah, ibu
bisa, aja. Nah, konsul ya, Tan?!” Balas dosen kedua tak ingin kalah.
Rasanya begitu
hangat dan nyaman. Ya, benar. Banyaknya pertanyaan yang dilontarkan masih
diselimuti dengan senyum dan tawa. Bahkan teman-teman satu kelompok bimbingan
pun ikut mencairkan suasana ketika judul kasus ini membuat satu ruangan harus
menghela napas. Terimakasih dosen pembimbingku.
-------------
PKK III -------------
Kampusku
menjadwalkan PKK III berlangsung tepat setelah sidang proposal LTA. PKK III
kali ini akan menghabiskan waktu kami selaku mahasiswi DIII Kebidanan untuk
dinas di RS, PKM dan BPM. Bagaimana dengan tugas akhir? Selama itu pula tugas
akhir kami harus tetap berjalan. Giliranku, aku mendapat jadwal untuk dinas di
Puskesmas terlebih dahulu. Alhamdulillah … Allah memberiku kemudahan dengan hal
itu. Kenapa demikian? Karena taksiran persalinan ibu hamil yang sedang aku dampingi berada di bulan saat aku
dinas di Puskesmas.
Minggu itu,
tepat tanggal 13 Maret 2016, seperti biasa aku berangkat dinas ke PKC. M, alhamdulillah
rute perjalanannya lancar, mulus dan sejuk sekali. Aku paling suka kalau harus
dinas hari minggu. Kenapa? Karna perjalanannya ku anggap sedang jalan-jalan,
tidak macet seperti hari biasa. Satu lagi, pelayanan hanya pada bersalin, nifas
dan BBL (Bayi Baru Lahir), hehehe.
Hari itu kupikir akan sepi juga di PKC. M, ternyata, banyak juga yang partus
(bersalin/lahiran), tak apa, aku dan Risa akan ON. Ada dua bayi yang harus aku pantau, temanku yang lain akan
memantau atau mengobservasi ibu nifas dan BBL yang lainnya. Tak kusangka, ibu
nifas (Ny. M) yang sudah pulang kemarin harus kembali lagi karena bayinya demam.
Aku dan Risa yang sebelumnya bertemu dan berfikir bahwa ibu tersebut sudah
bahagia karena bisa pulang ke rumah, ikut merasakan kesedihan yang terpancar
dari wajahnya. Ia begitu menyayangi bayinya, tetesan air mata tak bisa ia
bendung ketika melihat sang bayi demam dan harus mendapat perawatan lebih.
Sampai akhirnya bayi tersebut harus dibawa ke rumah sakit. Aku dan Risa hanya
bisa berdoa agar dede lekas sembuh,
aamiin. Sore pun tiba, ibu nifas beserta bayi yang harus kami pantau tinggal
dua, bayi pertama hipertermia (suhunya rendah) dan bayi yang kedua takipnea (nafasnya
cepat). Sambil melakukan observasi, aku dan kawan-kawan mengerjakan tugas
kampus yang lainnya. Sang malam tak ingin kalah, kini ia hadir menemani aku dan
kawan-kawan untuk berpartisipasi dengan bagian pendaftaran karena IGD sedang
ramai-ramainya, bahkan sampai 200-an pasien. Subhanallah …
Senin, 14 Maret
2016, alarm berbunyi dan memintaku untuk sholat tahajjud, tapi aku kalah dengan
godaan syetan. Shubuhpun berkumandang, ada pasien juga, kali ini bagian partner
capcin (panggilan special untuk kawan baru dari akbid lain) yang akan menolong.
Setelah itu aku baru bisa membuka hape
dan memeriksa kalau ada satu panggilan masuk dan dua pesan singkat (sms). Dari
siapakah itu? Astaghfirullah ... dari suaminya ibu hamil yang aku
dampingiiiiiiiiiiin. Langsung bales sms, langsung telpon balik berulang kali. Aku
berusaha untuk menghubungi kedua pasangan suami istri yang sedang menunggu
kehadiran bayi pertamanya ini. Aku begitu bingung dan memikirkan banyak hal
kenapa sms dan telponku belum juga direspon. Apa iya ibunya sudah lahiran di
tempat lain karena terlalu panik? Atau sekarang sudah masa nifas dan lagi
kumpul keluarga? Ya Allah … atau aku datengin
aja ya ke rumahnya? Tapi lagi di rumah yang mana? Di Jatimekar atau Pinang
Ranti? Bingung. Oke, aku tungguin aja di depan Puskesmas, tapi tak kunjung
datang. Baiklah, aku ambil statusnya dulu, siap-siapin
format bersalin dan yang lainnya. Sip, Tan! Tenang … berdoa!
"TOK TOK
TOK". Suara ketukan pintu yang tak biasa terdengar dari ruang bersalin
PKM. M. Dengan sigap, ku hampiri kedua pasangan suami istri yang tengah membawa
tas besar dan jelas ku ketahui bahwa itu berisi perlengkapan persiapan
persalinan. Ya Allah, muka bumilku
sudah tak seperti biasanya. Masuk ke ruang bersalin dan dilakukan pemeriksaan.
Tekanan darah beliau 180/120 mmHg. Mungkin karena lelah dan baru sampai juga.
Tunggu 10-15 menit. Tensi lagi, 180/120 mmHg. Dilakukanlah pemeriksaan yang
lain termasuk pembukaan jalan lahir. Sejauh ini, setiap proses komunikasi
benar-benar dilakukan dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan ibu hamil
yang ingin bersalin lainnya. Aku dan suaminya selalu menerjemahkan agar bahasa
yang disampaikan bisa dimengerti baik oleh ibu hamilku ataupun dengan lawan
bicaranya (baik bidan maupun dokter). Waktu terus bergulir. Selain ketuban yang
sudah pecah. Tensi ibu hamilku juga tinggi bahkan dengan hasil protein urine
yang +2. Seluruh pengkajian data subjektif dan objektif telah dilakukan. Diambil
keputusanlah untuk melakukan rujukan ke rumah sakit terdekat, InsyaAllah ini
yang terbaik, ucap hatiku. Dilakukan penanganan awal pada PEB dan KPD. Jujur, aku
tak kuasa melihat ibu hamilku dan suaminya. Aku terbayang ketika kami melakukan
latihan persalinan normal untuk rencana bersalin di Puskesmas dan semuanya
sudah kami pelajari bersama-sama disetiap minggunya. BAKSOKU siap, aku ikut
mendampingi ibu hamilku ke RSIA. R. Aku hanya bisa memberitahu ibu hamilku
melalui elusan lembut pada perut dan kakinya untuk sabar dan InsyaAllah
semuanya akan baik-baik saja. Aku dan kakak-kakak bidan hanya bisa berdoa
semoga semuanya lancar, aamiin. Saat di ambulance
juga aku tak lupa untuk menyampaikan kepada dosen pembimbing pertamaku apa yang
sedang terjadi. Beliau juga berdoa semoga ibumilku tidak di SC.
Sesampainya
kami di RS, banyak sekali yang menyambut kakak bidanku, karena beliau pernah
bekerja di RS tersebut. Saat di ruang penanganan awal, aku hanya bisa membantu
ibu hamilku mengganti pakaian dan memberikannya dukungan emosional dengan
tatapan mata, elusan dan beberapa kalimat penenang. Aku juga tak diperbolehkan untuk menemaninya
di ruangnya tersebut. Aku dan suami ibu hamilku akhirnya menunggu di luar
ruangan. Kami menunggu berjam-jam sampai akhirnya tak lama kemudian ibu dari
ibu hamilku (Emak) datang bersama dengan cucunya. Emak juga ikutan mules dan
kurang enak badan. Aku dan Diah (cucu dari Emak) berinisiatif untuk membeli
jamu untuk masuk angin dan minyak
oles. Kami sudah kemana-mana
namun hanya jamu yang bisa dibeli.
Setelah memberikan jamu, aku meminta Diah untuk menemaniku sholat, “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi
tenang”. Seselesainya sholat, aku kembali menemui Emak dan suaminya ibu hamilku. Ternyata, Emak dan Diah ingin pulang dan menunggu di rumah. Tak apa, Mak. Biar cepet
sehat dan bisa gendong cucu yaa. Lagi
lagi aku hanya bersama suami dari ibu hamilku. Kami sama-sama berdoa semoga ibu
dapat bersalin normal walaupun harus di RS, aamiin. Di sela-sela waktu menunggu
itu, aku dan suami ibu hamilku selalu melihat kakak kakak perawat atau bidan mendorong box bayi. Ketika melihat itu berulang kali karena banyaknya bayi
yang ingin berjumpa dengan sang mama untuk menyusu, kami bahagiaaa sekali. Aku
membayangkan ibu hamilku akan bertemu dengan anak pertamanya. Dan suaminya ibu
hamilku membayangkan nanti anaknya juga akan seperti itu ketika sudah lahir.
Disaat menunggu juga aku merasa mulas. Ibuuuu, mulasmu sudah kemana-mana
termasuk ke aku. Hehehe. Lagi lagi
disaat menunggu juga, aku bertemu dengan ibu nifas yang bayinya demam itu,
masih inget nggak cerita yang di
atas? Yang aku harus memantau bayi demam dan akhirnya dirujuk. Nah, hari itu
aku bertemu dengan ibunya bayi itu, ia lebih segar dan terlihat lebih tegar.
Dan tak disangka, suaminya juga ikut menemani. Alhamdulillah … aku ikut senang
melihatnya. Mereka sekarang lebih klop.
Aku seperti reunian dengan klien, hehehe.
Walaupun Emak dan Diah sudah pulang, aku tak kesepian. Beberapa saat kemudian,
"Panggilan kepada keluarga Ny. H?!",
aku dan suami ibu hamilku langsung nyamperin
petugas dan mengikuti apa yang diperientahkan. Yang bisa masuk untuk
mendengarkan penjelasan dokter hanya suami ibu hamilku. Ketika beliau keluar
aku segera bertanya sambil melihat lembaran yang beliau pegang, “Catatan
persiapan SC”, ternyata ibu hamilku harus di SC karena tensinya tinggi. Aku
hanya bisa menarik nafas, menyebut nama Allah, dan menghembuskannya kembali.
Suami ibu hamilku pun akhirnya pulang untuk mempersiapkan semuanya. Aku? aku
sms dosen pembimbingku dan memberitahu keputusan yang telah dibuat oleh dokter.
Lalu aku menyampaikan juga tentang kesedihanku kepada beliau. Karena suami ibu
hamilku pulang, aku pun izin pulang kepada dosen pembimbing, beliau mengizinkan
namun ketika masa nifas aku harus tetap memberikan asuhanku. Ku hubungi Risa
untuk kembali ke RS menjemputku. Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB, sambil
menunggu Risa, tak disangka lagi, aku bertemu dengan ibu hamil (Ny. L) yang
didampingi oleh temanku, maksudnya pasien kompre temenku, beliau memang SC
selektif di RS itu pada tanggal 12 kemarin. Sebut saja temanku itu, Ka Nathan (teman satu bimbingan). Subhanallaaah, aku seneng
banget melihat beliau sudah bersama bayi dalam gendongannya, yang tadinya masih diperut sewaktu aku bertemu pertama
kali untuk mencari rumahnya bersama Ka Nathan. Senaaaaang sekali. Beliau juga
bertanya aku sedang apa dan sama siapa. Kujelaskan semuanya.
Beliau menjelaskan
…..
"Kalau
SC nya jam 15.00 kemungkinan keluar dari ruangan itu sekitar jam 22.00 mba, mba mending jengukin besok aja, soanya
mba S (Ka Nathan) juga nggak
boleh nemenin sama sekali waktu saya mau di SC dan lain lain". Dalam
hatiku, iya Bu benar, temanku itu memang sediiiih sekali saat itu.
“Iya Bu,
InsyaAllah besok aku dateng lagi ke sini. Ini lagi nunggu dijemput.”
"Sama
pacarnya, mba?" kata sang ibu sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Ya
Allah Bu, siapa? hehehe"
"Iya, soalnya aku liat kalo mba S udah punya pacar ya, bahkan pas
itu difotonya ada anak kecilnya, kupikir itu anaknya."
"Ibuuu, iya doain aja
dia emang sebentar lagi, hehehe"
"Yaudah, temennya nggak usah
kesini, mba pulang naik mobil sama
aku dan keluarga aja, ke Puskesmas
kan? Nanti kan ngelewatin.”
"Iya nggak apa-apa bu, temenku udah dijalan kayanya,
hehehe, makasih banyak ya, Bu".
Alhamdulillaaah,
percakapan yang luar biasa, bayi yang digendongnya
pun begitu cantik, cantiiiiik sekali. Sebelum bertemu dengan Ny. L, aku juga
sempat menjenguk bayi yang demam itu (bayi Ny. M), ia begitu lahap menyusu
bersama ibunya. Sedih, senang, terharu, yang biasanya sudah pulang, bahagia,
sehat, terus ketemu lagi pas kontrol. Tapi ini ketemu lagi di ruang perawatan
khusus. Bayi Ny. M harus disinar :( suami Ny.M juga berkaca-kaca melihat bayi
dan istrinya yang sedang berdua. Ku sempatkan juga melihat ruang perina, bayi
mungil, cantik, lucu, manis, ganteng, semuanya tertidur dalam bed masing masing namun berjejeran,
kulihat satu persatu, dalam doaku, sebentar lagi bayinya ibu hamilku juga akan
tidur di ruangan ini, aamiin.
Masih
menunggu Risa, akhirnya aku mendapat pertanyaan dan diminta tolong oleh pasutri
yang bayinya sedang dirawat itu untuk menanyakan pada pihak Puskesmas apakah
SKL bayinya sudah bisa diambil agar kami bisa membuat BPJS untuk bayi kami, dan
tidak perlu membayar biaya perawatan RS. Aku telah memberitahu Risa untuk
menanyakan hal tersebut lebih dulu kepada bidan Puskesmas sebelum ia
berangkat. Ternyata pas Risa sampai, dia belum sempat melihat hape
dan membaca semua pesanku, mungkin karena di Puskesmas sedang sibuk juga kali
yaa. Pas Risa nyampe juga, ibu nifas
dan suaminya masih ada di ruang tunggu itu, akhirnya mereka ngobrol dulu. Selesai ngobrol, kita pulang deeeeeh. Ngeeeeeng. Aku yang bawa motor
Risa. So lets get the beat biru~
Sesampainya
di Puskesmas, Risa langsung pulang. Aku juga sempat menceritakan secara singkat
apa yang terjadi di RS kepada Ka Nathan. Hari ini jadwal dia dinas, sedangkan
aku dan Risa lepas, se-usai 24 jam, besok kami harus masuk pagi lagi. Rapi-rapi tas
dan lain-lain. Sebelum pulang aku juga sempet
pamit ke Ka I dan bertanya apakah SKL bayi Ny.M sudah bisa diambil? Karena
orang tua dari bayi tersebut ingin membuat BPJS bayi agar tidak membayar biaya
perawatan RS. Dan alhamdulillaahnya SKL sudah bisa diambil. “Dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan”. Saya
pamit pulang ya, Ka I, Assalamu'alaykum …
“Ngeeeeng,
ngeeeeng”. Sampai di gerbang Puskesmas, ku hentikan motor, aku harus sempetin sms Ny.M yang bayinya lagi di
rawat untuk memberitahu tentang SKL (Surat Keterangan Lahir). Ditakutkan, kedua
pasangan suami istri tersebut menunggu infoku di RS. Alhamdulillaah masih bisa
sms. “Ngeeeeeng”, lanjut pulaaaaang, walaupun pikiran tentang keadaan ibu hamilku
pasti ada :( tapi semoga ia baik baik saja, aamiin. Sepanjang perjalanan .. aku udah somnolen,
kadang merem, melek, sadar, nggak sadar, sempet buka helm dan masker
biar udara masuk lalu sadar. Minggir dan minum dulu nggak yaa? Tahan 6 jam lagi, bentar lagi. Tutup helm lagi, merem lagi, melek lagi, merem
merem merem merem merem …… udah kaya
masuk ke dalam mimpi, di dalam mimpi itu aku seperti kecelakaan, agak agak
kurang jelas, tak terasa apa apa juga, oh iya emang mimpi kali yaa, emang
nggak kerasa juga, kata hati yang udah mulai ngelantur. Sekarang aku percaya, tidur kurang dari 6 jam dalam sehari itu bisa membuat orang seperti nge-fly. Mungkin begitu rasanya.
"Mba?
Mba bangun, Mba banguun!"
Ku coba tuk
membuka mata. Pusiiiiing sekali. Pusing di kepala sebelah kananku membuat
telapak tangan ingin menyentuhnya dan ternyata berdarah.
“Ini dimana
ya, Pak?” (Padahal itu rute aku biasa PP baik kuliah maupun dinas).
“Nomer orang tuanya berapa? Nomer bapaknya berapa?” tanya salah
seorang bapak-bapak diantara beberapa orang yang berada di depanku.
Dengan mata
tertutup, tangan kanan yang selalu menyentuh kepala akibat pusing, ku
raba tas dengan si kiri untuk mencari handphone dan
menunjukkan nomor Bapak. Namun hal itu tak membuahkan hasil, karena aku tak
menemukannya.
“08xxxxxxxxx7
, coba Pak itu nomernya.” Ku beri tau nomor yang menurutku saat itu adalah
nomor Bapakku. Alhamdulillah, bukan nomor lain yang ku sebut.
Ternyata kecelakaan
beneran? Ya Allah … pusing, aku pasrah. Aku juga sempat lihat di telapak tangan kiriku tercatat nomer plat angkot yang katanya
tabrakan sama aku. Seperti pernah mimpi ini, tapi dulu, tapi dulu mimpinya kaya gimana?.
“Mba,
motornya ada disana ya.” Kata salah satu bapak-bapak sambil menunjukkan motor
gigi hitam biruku yang sudah .. sisi lampu kanan pecah, sayap kanan retak dan patah, kaca spion kanan copot.
“Ini Mba, udah nyambung nomernya.” Sambil memberikan handphone
miliknya kepadaku.
"Ndo? Ndo?"
suara bapakku dalam telepon itu.
"Pusing
…kepala aku pusing, Pak" Hanya itu yang bisa ku katakan ketika mendengar
suara bapakku dalam telepon. Dan tanpa izinku, air mata mengalir begitu saja.
Bapak-bapak
yang menolongku lalu menjelaskan keadaanku. Tiba-tiba aku mendengar ada ibu-ibu
lewat naik motor sambil berkata …
"Ya
ampuuuun, kasian banget ini kenapaa?!"
Akhirnya ia
merebut telepon genggam yang sedang terhubung dengan bapakku dan berkata …
"Bapak
ini kasian banget anaknya mau dikemanain?!
Harus segera ditanganin! Cepet ambil keputusan, Pak, ke RS
terdekat atau gimana?! Tapi saya nggak
bisa nemenin, saya mau nganterin anak saya sekolah dulu,
Pak."
Saat itu aku
hanya bisa tertidur. Ketika melihat segelas teh manis lengkap dengan sedotan
putih di dalamnya terletak di sebelah kananku, entah sudah ditawarkan atau belum, atau karena inisiatif
sendiri agar pusingku bisa sedikit hilang, saat itu juga aku langsung
menyeruputnya dan sadar bahwa aku sedang membatalkan puasaku. “Rezeki
anak sholehah, dapet bukaan gratis, manis, hangat, padahal bukan di rumah,
hihihi,” kata malaikat sebelah kiri. | "Anak sholehah dari mananya? Mau sholat tahajjud? kalah sama syetan! Mau puasa? sekarang malah buka! huh" malaikat sebelah kanan, tak ingin kalah. Lalu aku dibantu naik motor dan boti ke RS terdekat. Sepanjang perjalanan , aku hanya bisa memejamkan
mata karena pusing.
Sesampainya
di RS, dengan bantuan kursi roda aku menuju IGD, pasrah terhadap asuhan
keperawatan yang akan diberikan. Aku diberikan oksigen tapi itu tak berfungsi dengan hidungku yang bampet akibat
tangis.
“KTP nya
dimana, Mba? Kata bapak-bapak yang menolongku.
“Ada di tas,
Pak. Ambil aja, ada kartu BPJS juga.” Jawabku dengan mata terpejam
“Disini nggak terima BPJS, Mba.” Teriak beliau sambil berlalu menuju meja pendaftaran
“Yauda, nda
apa, Pak.” Suaraku lirih
“Habis dinas
dimana, Ka?” Kata salah satu kakak perawat yang menanganiku.
“Iya, Ka. Aku
masih mahasiswa.” Jawabku.
“Mahasiswa
mana?”
Percakapan
tersebut berlanjut hingga darah yang keluar dari kepalaku teratasi. Oksigen
yang bisa membuat pusingku mungkin berkurang tetap saja tak bisa masuk akibat tangisanku
sendiri. Aku harus bernafas melalui mulut. Ketika melihat para tenakes hilir
mudik kesana kesini di depan mataku, aku terpikirkan suatu hal, biasanya,
seragam ini selalu menemaniku dinas di IGD sebagai pemberi asuhan, tapi kini,
ia menemaniku sebagai orang yang diberi asuhan. Seragam OK biru kesayangan yang
Alhamdulillah ia tak terluka sedikit pun, mungkin hanya pada daerah lutut yang
berubah menjadi sedikit pudar.
Sekitar pukul
14.30 WIB, rajaku sampai. Beliau datang dari Bogor, dengan jaket hitam yang selalu ia
kenakan setiap harinya, ia menghampiri dan langsung memberikan usapan lembut di
kepala putri pertamanya ini. Kecepatan apa yang bisa membuatmu datang secepat ini, Pak? Aku hanya bisa mencium telapak tangan, mengucapkan
permohonan maafku dan menyandarkan kepalaku di pundak depannya. Tangisan yang
sempat terhenti, kembali pecah saat itu juga. Aku tak ingin tidur meski pusing,
karena hal itu membuat hidungku tak bekerja dengan baik. Lalu bapak menelpon
ibu, saat itu juga tangisanku semakin deras, maafkan aku ibu …
Kurang lebih
30 menit kemudian ibuku datang bersama Ari, Alhamdulillaah Ari sedang tidak
dinas saat itu, terimakasih banyak adeku, aku hanya bisa mengucapkan permohonan
maaf kepada ibu dan bapakku, semuanya menangis saat itu, tapi aku tak tau Ari
menangis juga atau tidak. Kupikir dia pasti lebih tegar :'D. Aku di-skintest, yang biasanya nge-skintest. Aku di CT-SCAN di ruangan yang begiiiiiitu dingin, tak nyaman. Dan
kakak perawatnya entah dia terlalu sigap atau bagaimana, ia membawa rostur dengan kecepatan tinggi, padahal
kepalaku lagi pusing tahu, Kak. Setelah di-CT-SCAN aku disuntik
obat, sakiiiiit, hehehe. Ngerasain IC untuk yang kedua kalinya setelah dulu
belajar nge-IC-in temen dan di-IC-in, di Lab, bersama dengan teman-teman tersayang (Anabel). Tapi nggak lama setelah diberikan obat
tersebut pusing dan sakit kepalaku berkurang. Setelah menunggu hasil CT-SCAN dari dokter, aku boleh pulang. “Alhamdulillah…
betapa sayangnya Allah sama aku, aku masih bisa berjalan dan menegakkan
tubuhku. Semua itu kekuatan dari Allah.”
Taksi yang
aku, ibu dan bapak tunggu tak kunjung datang, akhirnya aku dibonceng bapak sedangkan
ibu naik ojek. Sesampainya kami di rumah, aku hanya bisa bersyukur kepada
Allah, Alhamdulillah … bisa pulang. Benar bahwa rumahku adalah istanaku. Kedua
adikku nggak berani melihat mba-nya. Mereka terdiam kaku. Entah apa
yang mereka pikirkan, namun hal itu tak bisa ku pungkiri begitu menggelitik
meski bibir ini hanya bisa tersenyum. Baru kali ini mereka nda berantem
ataupun teriak teriak di rumah. Lalu, keluarganya Ari dan Mba Anis datang. Terimakasih banyak pakde dan
bude haji atas doanya. Terimakasih atas saran dan perhatiannya. InsyaAllah
setelah ini aku akan lebih ikhtiar lagi, aamiin aamiin yaa robbal alaamiin.
Seminggu di
rumah, tidak dinas, tidak kerja keras, benar benar hanya di rumah, jasmani dan
rohaniku begitu haus. Entah apa yang ku pikirkan. Setiap bapak pulang kerja,
pasti melihat keadaanku. Padahal setiap hari kami bertemu. Subhanallah … Allah
begitu sayang padaku. Alhamdulillah …
Dalam waktu
semingu itu juga anak-anakku menjengukku. Ya benar, mereka itu seperti
anak-anakku dengan keunikannya masing-masing, nggak bisa dijelasin lagi
seperti apa, tapi aku sayaaaaang banget sama mereka, entah kenapa intinya aku
sayang mereka, mereka, ya, mereka, Anabel. Maafin
aku karena harus memberikan berita duka ini kepada kalian. Maafkan aku dan
terimakasih banyak. “Lagi lagi dan lagi betapa sayangnya Allah kepadaku”. Hamba
memohon kepadaMu Ya Allah … kirimkan mereka pangeran yang luar biasa suatu hari
nanti, satu per satu. Mereka adalah perempuan-perempuan yang luar biasa Ya Allah.
Terimakasih Fina, Pida, Sisil, Tika dan Sesa. Telah menyempatkan waktu padatnya
saat dinas PKK III ini. Kasih sayang kalian yang membuat aku sangat cepat
sembuh. Eaaa. Terimakasih Farah,
teman SMA yang kenal pula dengan Fina. Hingga susu coklat yang ia berikan bisa
membuat kakiku lebih tegap berdiri. Tsaah.
Terimakasih Heidy dan Abel, sepulang kuliah langsung menjengukku meski
lelah. Maafkan aku merepotkan terus. Terimakasih Mamanya Heidy, Bidan Isabella,
maafkan aku ibu karena membuatmu khawatir juga. Kemarin konsul tentang tugas
akhir sekarang malah kasih kabar seperti ini. Terimakasih atas doanya.
“Yakin ndo udah
bisa dinas?”
“Iya, Bu,
InsyaAllah, doain yaa”
“Bismillah …”
Motor yang
kini didominasi dengan warna hitam karena perawatan yang ia terima pasca
kejadian itu harus bekerja keras lagi bersamaku mengarungi daratan beraspal.
Saat itu juga kedua kakiku baru bisa berkata bahwa mereka masih membutuhkan
perawatan. Ketika kaki kanan harus melakukan pekerjaannya untuk mengurangi
kelajuan si hitam, ia pun baru bisa berkata bahwa ini begitu menyiksa.
“Alhamdulillah
… Betapa sayangnya Allah kepadaku, aku hanya tidak dinas 3x24 jam (1 minggu), dan Allah
mengizinkanku untuk bisa membayarnya. Betapa sayangnya Allah kepadaku, aku
masih diberi kesempatan untuk bisa memberikan asuhan kebidanan masa nifas pada
Ny. H meski telah lewat 1 minggu. Allah … masih, terus, dan selalu memberikanku
nikmat yang luar biasa”.
Kejadian ini harus
kuulas saat kembali dinas. Baik kepada dokter, bidan maupun teman-temanku dari akbid
lain. Hingga Kakak-kakak Akapela pun tahu. Maafkan saya ya, Ka. InsyaAllah
semoga nda terulang, aamiin. Mata dengan hematom dan oedema yang tak dapat
disembunyikan menambah kejelasannya.
“Ngit, ngit,
sedih sebenernya, tapi kalo denger ceritanya karena ngantuk, jadi
gimana, ya?” Ungkap teman-temanku dengan canda tawa.
-------------
RS -----------
Saatnya PKK III di RS. RS yang
menjadi doaku untuk bisa dinas disana lagi setelah PKK II berlalu. Meski saat
itu rasanya tak mungkin karena kesempatan kedua akan diberikan kepada teman
yang belum pernah dinas di RS tersebut. Tapi, Allah Maha Mendengar, Maha
Berkuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengabulkan doa seluruh hambaNya. Aku termasuk
ke dalam list mahasiswi yang dinas
disana lagi. Saat aku tahu tentang hal ini, segera ku hubungi kedua teman yang
se-doa dan se-nasib denganku yaitu, Sucy dan Syifa. Alhamdulillah, MasyaAllah.
Betapa hebohnya kita bertiga. Ampuuuun.
Entah kenapa, meski harus berangkat jam 05.00 WIB naik motor
ke Stasiun Bekasi, harus dapat KRL dengan pemberangkatan pukul 05.57 atau 06.10
WIB, harus sampai di Stasiun Cikini paling tidak pukul 07.00 WIB, harus jalan
kaki mengitari Stasiun Cikini untuk bisa keluar gerbangnya, Universitas Bung
Karno, Metropol Cinema XXI, Jalan Kimia dan baru bisa sampai tepat di depan IGD
RS yang ku tuju. Aku bahagia. Aku bersyukur. Ini merupakan salah satu mimpi
yang dikabulkan Allah saat aku duduk di bangku SMA. Begitu banyak ilmu yang
didapat ketika aku dinas di sana. Aku belum pantas untuk bisa berkata “bisa”
ketika masih begitu banyak kekurangan. Aku pun berjumpa dengan kakak kakak
alumni yang luar biasa. Bertemu dengan rekan-rekan baru yaitu Mahasiswi DIII
Kebidanan PKJ I.
Pada suatu waktu, shift sore akan berlalu, namun temanku tak
kunjung datang, apa yang terjadi? Ternyata, kemacetan yang luar biasa terjadi akibat
rel KRL di salah satu stasiun ambles dan tak bisa dilalui seperti biasanya.
Semua orang beralih ke angkutan umum. Bagaimana caraku pulang?
“Tanri, kamu pulang naik apa?” Tanya teman baru dari PKJ I
“Hmmm …..” Pikiranku kosong dan hanya bisa membayangkan
apakah terbang merupakan salah satu cara yang tepat untuk bisa sampai ke
Bekasi.
“Tan?! Aku pesenin &^^%K aja, ya?” Tanyanya memecahkan
lamunan.
“Ah, iya boleh, tapi apa bisa?!”
“Kita coba, ya!”
“Tan, sini-bekasi 41 KM. Belum ada yang nerima juga. Ada
yang lebih deket nggak, Tan? Nanti transit ganti &^^%K lain” Tanyanya.
“Ooh, begitu ya, yauda sampe MM aja bisa nda?” Jawabku
pasrah.
“Yaudah, Tan. Ini tetep aku pesenin. Nanti kalo udah ada
kabarnya aku kasih tau kamu, ya?!”
Ia beranjak pergi. Aku? Masih menunggu kepastian di depan
IGD. Perut tak bisa berkutik untuk tak diisi oleh sesuatu. Ia tahu saja kalau
di tasku ada bekal yang belum ku sentuh. Makan di pos jaga. Sambil menengok handphone beberapa kali. Batraiku akan
habis beberapa detik lagiiiiiii. Tengok sana sini, ada colokan. Alhamdulillah dapet izin nge-cas. Tiba-tiba, aku mendapat pesan dari nomor yang tak kukenal.
Ternyata, itu &^^%K ku. Ia berkata bahwa ban motornya bocor dan harus di
tambal dulu. Baiklah, tak apa. Aku akan menunggu dan menghabiskan makanan ini.
Sesampainya si &^^%K. Ngeeeeeng! Sampai
di MM pukul 22.45 WIB. Alhamdulillah masih ada angkot 02. Bismillah, naik.
Sampai di terminal Bekasi. Loh?! Kenapa angkot 19 A udah pada nggak ada?! Beserta suasana yang sepi, udara di sekitar
pun tak bisa menyelimutiku dengan kehangatan. Angin malam begitu menusuk
ragaku. Hanya ada beberapa ojek yang tersedia. Ku pilah dengan hati siapa yang
terbaik tuk bisa mengantarku sampai rumah dengan selamat. Alhamdulillah … Allah
Maha Memberi Keselamatan.
“Ndo, ko baru
pulang?” Tanya seorang malaikat yang sedang menungguku
Ku ceritakan semua kejadian malam itu. Istirahat. Besoknya.
Dinas lagiiiiii. Meski hanya tidur 6-7 jam setiap dinas disana (PKK II) dan
banyak cerita seru saat (PKK III). Semua itu tak membuatku merasa bosan dan
jenuh. Langit malam dan suasana Jakarta dengan hiruk pikuknya memberikanku
berjuta pelajaran dan pengalaman berharga hingga hikmah dapat dipetik untuk kuabadikan
dalam perjalanan selama menjadi mahasiswi DIII Kebidanan. Semua itu, sangat
indah. Meski terlihat sulit, Allah selalu beri kemudahan hinggaku tersenyum
sendiri dalam lamunan.
Motor gigi hitam biru yang tak bisa ku ambil malam itu
karena tak pulang dengan KRL, harus menginap lebih dari sehari. Biaya penitipan
pun lebih dari hari-hari biasanya. Dan tidak adanya dia di rumah, membuatku harus
mengatur waktu dengan menggunakan angkot agar tidak telat.
------------
BPM -----------
Dinas RS berakhir, saatnya ke BPM. Alhamdulillah, tempatnya
sangaaaaaaat dekat dengan rumahku. Ini adalah tempat dinas terrrrrrrdekat dalam
hidupku. Serius. Rasanya. Subhanallah …Alhamdulillah. Terimakasih partner
cantik BPM, Cladera Chairi.
------------
RUMAH DIBONGKAR -----------
Selama menjalani proses pembuatan proposal laporan tugas
akhir, sidang atau seminar proposal laporan tugas akhir, mulai dinas di
Puskesmas (+kejadian itu), Rumah sakit, BPM, ujian OSCE PKK III dan berakhir
dengan sidang laporan tugas akhir . Selama itu pula rumahku sedang di renovasi.
Rumah yang sangat tak tega untuk aku, bapak, ibu dan kedua adikku hancurkan
setiap minggunya. Benar. Bahwa setiap minggu kami sekeluarga menyicil untuk
membobrok setiap sisi -sisi dinding. Kenapa? kata bapak kalau tukang yang
mengerjakan ini akan memakan waktu dan uang. Jadi, cara ini termasuk tips untuk
menghemat pengeluaran sebelum memanggil tukang melanjutkan renovasi rumah,
hihi. Saat dinding dinding rumahku sedang “di-kulit-i”, aku masih bisa tinggal
disana. Namun, tepat seminggu setelah aku dinas di RS. Aku dan keluarga harus
pindah ke tempat sementara karena rumah berusia 21 tahun ini sudah tak beratap.
Sedih rasanya. Saksi bisu pertumbuhan dan perkembanganku dari 0-21 tahun kini
sudah berubah. Terlihat kayu kayu yang sangat rapuh dan lembab. Warnanya gelap
dan sangat tua. Memang sudah waktunya.
Terjadi perselisihan dalam diriku. Ingin berkata tidak, namun
tak mampu. Bagaimana bisa? ketika aku dan adikku sedang berada pada masa-masa
akan dan sedang menghadapi berbagai macam ujian kelulusan, kami harus
melaluinya dengan situasi yang seperti ini. Aku dan adikku harus beradaptasi.
Dan aku yang paling tak bisa menyembunyikan isi hatiku. Bibirku terdiam
membisu. Namun tidak dengan mataku. Setiap hari aku harus mengolah emosi dan
mencukupi kebutuhan psikologis.
Jujur, selama itu pula tugas akhirku masih saja berada pada
BAB III. Ya, benar. BAB yang diselesaikan sebelum seminar proposal laporan
tugas akhir. Hingga berbulan-bulan tak ada kemajuan. Materi yang tak kunjung ku
temukan. Acuan yang tak bisa didapatkan. Dan titik terang yang belum juga
terlihat hingga dinas PKK III berakhir. Bagaimana bisa BAB IV, V dan VI dapat
ku selesaikan? Aku masih saja optimis untuk bisa menyelesaikan ini seminim
apapun “pendapat pribadi” dan “pendapat orang-orang” tentang referensi dan hal-hal lainnya. Hampir saja aku kalah dengan godaan untuk menyerah. Walau ku tak tahu,
tapi aku ingin.
Bagaimana dengan saudara saudariku yang harus tinggal dengan
keadaan yang mungkin “lebih” dari pada ini? Ketika ia masih harus berjuangan
untuk bisa menuntut ilmu dengan berbagai macam ujian yang bersikukuh menghadang
di depannya. Sedangkan aku? Allah memberiku begitu banyak nikmat yang luar
biasa. Aku malu.
Move on, Tanri! Ya. Aku berusaha untuk bangkit. Pasti ada
hikmahnya. Selain tugas akhir yang menuntut untuk dikerjakan. Ujian OSCE PKK
III juga tak ingin kalah. Alhamdulillah … Allah memberikanku Eccy. Belajar
persiapan ujian OSCE PKK III di rumahnya sambil nginep dan nyemil-nyemil. Di sana pula untuk pertama kalinya aku
jadi obat nyamuk, karena Yogi ingin “ber-silaturahmi” dengan Eccy. Dapat doa dari Mamanya Eccy.
Dapat doa dari Ibu juga. Alhamdulillah ... lulus ujian OSCE PKK III.
------------
PERSIAPAN SIDANG -----------
Aku masih harus memperbaiki BAB I, II dan III. Menyusun BAB
IV, V dan VI. BAB I InsyaAllah fix
dengan rumusan masalah “Bagaimana Asuhan Kebidanan Kehamilan pada Ny. H dengan
Tunarungu Wicara?”. Setiap aku memikirkan laporan tugas akhirku sendiri. Selalu
terlintas, melayang-layang, terbayang-bayang beberapa kalimat …
“Lo mau bikin buku Taaan .. gimana caranya ngasih asuhan
kebidanan kehamilan dengan ibu hamil tunarungu wicara?!”
“Gimana caranya, Taaaan?!”
“Ya emang bukunya nggak ada, atau lo belom nemu, tapi yaa nggak
gitu juga kali, Taaaan?!”
“H-2 minggu masih aja ngutek ngutek BAB I, II, III dan IV?!”
Rasanya memang tak mungkin untuk membuat buku seperti yang
selalu dipertanyakan oleh otak dan hatiku. Tapi, konsepnya sudah dipergunakan saat memberikan asuhan kebidanan pada
Ny. H. Meski apa adanya, berusaha saja ya Tan. Sedikit-dikit. Secuil-cuil.
Bingung, bingung, bingung, bingung. Konsul, konsul, konsul, konsul. Rumusan masalah yang membuatku berpikir untuk membuat buku itu akhirnya bisa lebih jelas dengan tujuan umum dan khusus yang telah dicerahkan oleh kedua pembimbing. Alhamdulillah. BAB I? Bungkus. Yang akan aku bahas nanti adalah, proses komunikasi, cara meningkatkan pengetahuan ibu hamil, proses evaluasi dari asuhan, serta megetahui strategi dan hambatan yang ditemukan.
BAB II juga masih ada yang harus dihilang dan tambahkan. Termasuk materi komunikasi klien hamil dengan tunarungu wicara yang hanya ada dalam bahasa inggris. Walau demikian, hal itu sudah sangat ku syukuri. Karena data penelitian asuhan kebidanan kehamilan pada ibu hamil dengan tunarungu wicara pun tak kutemukan hingga detik aku menulis diary ini. BAB II? Bungkus.
BAB III tentang metode studi kasus. Poin pentingnya yaitu pada perencanaan asuhan. Alhamdulillah kalau yang ini revisi terdikit dari BAB BAB yang lainnya. BAB IV tentang tinjauan kasus. Apakah sesuai dengan metode? Alhamdulillah … terjadi sedikit perubahan rencana karena “kerjadian” itu.
BAB V, pembahasan. Nah, ini yang paliiing, sangaaat, pastiii, dikoreksi, diperbaiki, disinkronkan, dibedah, dibenahi, diotak-atik, diputer balik, dipandangi, diresapi, dihayati, dicelupin, diangkat, dikasihi, disayangi, dicintai pokoknya. Subhanallah, MasyaAllah dosen pembimbing pertamaku memang sangat ingin semua pembahasan mahasiswinya itu terrr-maksimal usahanya agar hasilnya, baik. Aku dapat beberapa masukan mengenai …
“Kalau bisa yang kamu bahas bukan hanya pada Ny.H. Tapi apa yang kamu temukan pada Ny. H, kamu kembangkan rumusannya supaya bisa jadi acuan untuk memberikan asuhan kebidanan kehamilan pada ibu-ibu hamil seperti Ny.H.”
“Ini masih kurang dalam, Tanri. Coba yaa dicari lagi. Tambahkan yaa supaya lebih runtun, detail dan jelas.”
Bingung, bingung, bingung, bingung. Konsul, konsul, konsul, konsul. Rumusan masalah yang membuatku berpikir untuk membuat buku itu akhirnya bisa lebih jelas dengan tujuan umum dan khusus yang telah dicerahkan oleh kedua pembimbing. Alhamdulillah. BAB I? Bungkus. Yang akan aku bahas nanti adalah, proses komunikasi, cara meningkatkan pengetahuan ibu hamil, proses evaluasi dari asuhan, serta megetahui strategi dan hambatan yang ditemukan.
BAB II juga masih ada yang harus dihilang dan tambahkan. Termasuk materi komunikasi klien hamil dengan tunarungu wicara yang hanya ada dalam bahasa inggris. Walau demikian, hal itu sudah sangat ku syukuri. Karena data penelitian asuhan kebidanan kehamilan pada ibu hamil dengan tunarungu wicara pun tak kutemukan hingga detik aku menulis diary ini. BAB II? Bungkus.
BAB III tentang metode studi kasus. Poin pentingnya yaitu pada perencanaan asuhan. Alhamdulillah kalau yang ini revisi terdikit dari BAB BAB yang lainnya. BAB IV tentang tinjauan kasus. Apakah sesuai dengan metode? Alhamdulillah … terjadi sedikit perubahan rencana karena “kerjadian” itu.
BAB V, pembahasan. Nah, ini yang paliiing, sangaaat, pastiii, dikoreksi, diperbaiki, disinkronkan, dibedah, dibenahi, diotak-atik, diputer balik, dipandangi, diresapi, dihayati, dicelupin, diangkat, dikasihi, disayangi, dicintai pokoknya. Subhanallah, MasyaAllah dosen pembimbing pertamaku memang sangat ingin semua pembahasan mahasiswinya itu terrr-maksimal usahanya agar hasilnya, baik. Aku dapat beberapa masukan mengenai …
“Kalau bisa yang kamu bahas bukan hanya pada Ny.H. Tapi apa yang kamu temukan pada Ny. H, kamu kembangkan rumusannya supaya bisa jadi acuan untuk memberikan asuhan kebidanan kehamilan pada ibu-ibu hamil seperti Ny.H.”
“Ini masih kurang dalam, Tanri. Coba yaa dicari lagi. Tambahkan yaa supaya lebih runtun, detail dan jelas.”
“Dalam proses evaluasi, kamu
bahas menggunakan cara triangulasi ya, Tan.”
“Dibagian hambatan dan strategi coba
diluaskan lagi bagaimana ……………………….?”
H-1 minggu sidang masih beberapa kali konsul dan revisi BAB V. Seselesainya BAB V. Yuk, ke BAB VI. Alhamdulillah, BAB VI, fix. Dan yang paling menyenangkan, ketika aku dan Ka Nathan beberapa kali menunggu untuk memohon persetujuan sidang dalam antrian yang sangat panjang, sampai, tepat, di depan dosen pembimbing, masih ada yang harus diperbaiki. Akibat yang terjadi karena ulah sendiri juga, hihi. Keesokkan harinya, kami berlima, aku, Ka Nathan, Iyi, Ivaa dan Risa, menghadap untuk meminta restu sebelum sidang. ACC UJIAN.
H-1 minggu sidang masih beberapa kali konsul dan revisi BAB V. Seselesainya BAB V. Yuk, ke BAB VI. Alhamdulillah, BAB VI, fix. Dan yang paling menyenangkan, ketika aku dan Ka Nathan beberapa kali menunggu untuk memohon persetujuan sidang dalam antrian yang sangat panjang, sampai, tepat, di depan dosen pembimbing, masih ada yang harus diperbaiki. Akibat yang terjadi karena ulah sendiri juga, hihi. Keesokkan harinya, kami berlima, aku, Ka Nathan, Iyi, Ivaa dan Risa, menghadap untuk meminta restu sebelum sidang. ACC UJIAN.
---------SIDANG-----------
“Ya Allah, semoga sidang hari
pertama, aamiin.” Dalam doaku.
“Yakin udah siap, Tan?!” Ucap
hatiku.
“Siap nggak siap aku ingin segera sidang.”
Alhamdulillah … Allah mengabulkan doaku. Alhamdulillah juga … sidang Anabel terjadi pada bulan Ramadhan. Karena ada banyak hal yang harus disyukuri saat sidang di bulan suci ini. Namun yang tak kami duga …
Alhamdulillah … Allah mengabulkan doaku. Alhamdulillah juga … sidang Anabel terjadi pada bulan Ramadhan. Karena ada banyak hal yang harus disyukuri saat sidang di bulan suci ini. Namun yang tak kami duga …
“Bagi mahasiswi yang akan ujian pada hari pertama,
jadwalnya harus diundur menjadi hari terakhir karna satu dan lain hal.” (Ini
ada ceritanya sendiri).
Ya Allah … pasti ini yang terbaik, aamiin. Sangat
bahagia ketika melihat teman-teman sudah melewati sidang dengan luar biasa.
Subhanallah, MasyaAllah. Sudah foto-foto dengan penguji, foto pakai balon dan
bunga, foto pakai mahkota dan selendang seperti miss universe, hehe. Bukan kok, bukan itu yang menjadi tujuan
utamaku sidang. Aku ingin segera diskusi dengan kedua penguji. Banyak pertanyaan yang kumiliki dan tak kuketahui jawabannya. Selain itu, ingin segera mempresentasikan PPT
terrr-niatku.
“Tanri, PPT nya jangan pakai bunga-bunga ya.”
“Serius? PPT ku udah ada pelanginya, pantai, warna biru,
bunga, warna-warni.”
“Hahaha, Tanri … Tanri.”
Meski demikian, aku tak mengubah PPT ku sedikit pun. Peace.
Sejak seminggu yang lalu, aku sudah mendeklarasikan
mengenai sidang. Karena diundur, setiap hari aku selalu memohon doa tentang
sidangku kepada semua orang, terutama kedua orangtua. Pagi itu, semuanya
InsyaAllah sudah siap. Ibu dan bapak menyertai keberangkatanku dengan restu.
“Masuk pagi, Tanri?” tanya Bude Haji, ibunya Mba Anis.
“Iya, Bude Haji, doain yaa.” Kataku.
“Masih ada ujian ternyata.” Timpal bapakku dengan
candanya.
“Assalamu’alaykum …” Salamku.
Sesampainya ku di kampus, hanya ada beberapa orang.
Sesampainya ku di lantai 4 ruang 4.3, ruangan aku sidang, masih sangat gelap.
Seram. Pergi ke kosan teman untuk mengambil buku referensi terlebih dahulu.
Ketika kembali ke ruangan sidang, masih saja belum ada orang. Aku ke lantai 6.
Melihat lantai Sesa dan Tika sidang. Semuanya sangat …bersemangaaaat.
Aku turun ke ruang sidangku lagi. Ketiga teman
seperjuangan sudah hadir. Lalu aku dipakaikan lipstick berwarna merah terlebih
dahulu oleh Iyi. Biar segar katanya. Saat melakukan gladih resik sidang,
tiba-tiba salah seorang mahasiswi bimbingan dosen yang akan mengujiku berkata
seperti ini ..
“Bu X enggak suka kalo judulnya ada Asuhan
Kebidanan-Asuhan Kebidanannya.”
“Bukannya itu tergantung bahasan?” kata hati kecilku tuk
menenangkan.
“Tan …” Kata Iyi.
“Nda apa, Yi. Bismillah.” Usaha untuk menenangkan diri
sendiri dalam 30 menit menjelang sidang.
“Nggak apa-apa udah, tenang.” Kata Ka Nathan.
Kocok kocok kocok, kita memang hobi melakukan sistem
kocok dalam hal apapun. Dan ini saat yang paling aku tunggu. Jujur, aku sangat
berharap bisa sidang pertama. Seperti seminar proposalku. Lebih cepat lebih
tenang, hehe. Namun kali ini tidak. Aku mendapat nomor urut ke-4.
Pertama, Ka Nathan …
Kedua, Risa …
Ketiga, Ivaa …
Keempat, Aku …
Kelima, Iyi …
Judul tugas akhir ketiga temanku yang maju lebih dulu,
tidak ada kata “Asuhan Kebidanannya”. Dan akulah yang membuka sidang itu dengan
judul “Asuhan Kebidanan”. Bismillah.
ASUHAN
KEBIDANAN PADA NY. H DENGAN TUNARUNGU WICARA
DI
PUSKESMAS KECAMATAN M.
TAHUN
2016
Aku tak tahu apa yang selalu dibahas kedua penguji saat
aku sedang presentasi. Sesekali aku menoleh kepada teman-teman satu kelompok
yang selalu mengangguk disertai senyuman hangat. Dalam waktu 15 menit itu, aku
bertanya-tanya. Kenapa kedua pengujiku selalu diskusi dan terasa tak
memperhatikanku? Salahkah aku? Baiklah, ku tutup dengan kalimat testimoni ibu
hamil dengan tunarungu wicara dan dokumentasi selama aku memberikan asuhan.
Terimakasih, tidak boleh lupa. Duduk di kursi hangat.
Penguji 1 :
“Tanri, bagaimana rasanya memberikan asuhan kebidanan
pada ibu hamil yang berkebutuhan khusus?”
“Bagaimana cara kamu berbicara kepada beliau dan
keluarganya?”
“Ini sudah ada penelitiannya, Tan?”
“Kamu sempat membahas mengenai triangulasi, kamu tahu
artinya triangulasi?”
Penguji 2 :
“Sudah. Tidak ada revisi” Sambil membolak-balik tiap
lembar dalam laporanku.
Kedua penguji :
“Saya tidak tahu ada nilai yang lebih tinggi dari A atau
tidak untuk laporan tugas akhir ini.”
“Seperti skripsi ini, ya?”
“Dijadikan jurnal Poltekkes saja.”
“Baik. Tambahkan jurnal lagi ya, Tan. Cari saja di
……(situs-situs jurnal luar internasional)”.
“Jangan lupa. Ini untuk semuanya. Tetap jaga tali
silaturahmi dengan klien-klien kalian yaa. Mereka adalah keluarga baru kalian
sekarang.”
“Selamat yaa.”
“Ini ibu bawa yaa LTA kamu, buat kenang-kenangan.”
Subhanallah .. MasyaAllah .. 2 dosen penguji muda,
teoritis, kritis, teliti, fresh, mengatakan
hal demikian? Kupikir, akan ada pembahasan tambahan setelah sidang ini. Tak apa. InsyaAllah aku sudah siap dengan itu. Siap mengerjakan revisi-an. Rencana awal
kan, mau bikin buku, buku diary, hehe.
Teman-teman 1 kelompokku, bersorak riang. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum
untuk menyampaikan bahwa aku tak tahu lagi harus mencari jurnal kemana. Tentu
dengan kemampuan bahasa inggrisku yang seeeee .. gitu dah.
Selama sidang itu pula, aku melihat sepatu dan rok merah
muda selalu mondar-mandir di depan ruang sidangku. Beberapa kali, terlihat kamera
sedang mengambil gambar melalui pintu kaca ruang sidang kami. Sedang ada
dokumentasikah? Ternyata, saat aku dan teman-teman sudah selesai sidang.
Seseorang menghampiriku dengan bunga cantik beserta hiasannya. Pertama kalinya
aku diberikan bunga, dan seindah ini.
“Siapa, Tan?”
“Heidy.”
“Ciye ……”
“Heidy itu perempuan!!!!!”
“Ups! Hahaha.”
Selalu seperti itu tanggapan teman-temanku tentangnya. Terimakasih
Heidy Puspa Alyssa.
-----------
HARD COVER ----------
Kami harus kembali berjuang. Iyi sampai menginap di
rumahku. Buka puasa, teraweh, dan sahur bersama. Bergadang? Tentu. Sampai
akhirnya, softcopy laporan tugas akhir sudah berada dalam CD. Dua jilid laporan
pun sudah dalam map. Ketika menghadap untuk penyerahan jilid-an ..
“Tanri Lindawati. Saya ingin baca dulu ya, seperti apa
laporan tugas akhir yang mendapat nilai A.” Ucap dosenku.
“Ibu .. bisa tahu?” kata hatiku. Hening.
"Terimakasih, Bu .." Jawabku, tersipu malu.
"Terimakasih, Bu .." Jawabku, tersipu malu.
Cerita laporan tugas akhirku. Laporan tugas
akhir dengan kekurangannya. Laporan tugas akhir yang masih ingin kukembangkan.
Laporan tugas akhir yang memberikanku inspirasi untuk menulis buku asuhan
kebidanan pada ibu hamil dengan tunarungu wicara, entah bisa atau tidak. Aku masih dan akan terus
berdoa, agar cerita laporan tugas akhir ini dapat bersambung. Di dalamnya, tertulis harapan-harapan yang ingin diwujudkan. Aamiin aamiin yaa
robbal alaamin. Terimakasih J
Subhanallah, MasyaAllah, hanya Allah yang dapat membuat
skenario indah seperti ini,. Hanya Allah. Setiap detik. Hanya Allah dengan
AsmaNya. Aku tak bisa apa-apa. Aku tak tahu kenapa? Aku tak tahu mengapa? Yang menguatkanku? Allah. Yang memberikanku kesabaran? Allah. Yang membuatku sembuh usai "kejadian itu"? Allah. Yang memberikanku kesempatan untuk terus berusaha menyelesaikan laporan tugas akhir ini meski terasa "nggak mungkin bisa"? Allah. Yang memberikanku kebahagiaan setiap detiknya? Allah. Yang mengubah sedih dan kecewaku? Allah. Yang melindungiku? Allah. Yang menuntunku untuk melangkah dengan keyakinan? Allah. Yang selalu sabar dan memaafkan dosa-dosa yang telah ku buat terutama ketika aku masih belum bisa bersyukur? Allah.
Bersambung …
Diposting oleh



0 komentar:
Posting Komentar